Home Artikel/Opini Keculasan Profesor Yulian Wahyudi Membandingkan Pancasila Dengan Agama

Keculasan Profesor Yulian Wahyudi Membandingkan Pancasila Dengan Agama

85

Oleh: Jacob Ereste

Pernyataan Prof Yudian   
Wahyudi Kepala BPIP yang menyebut agama adalah musuh terbesar Pancasila, telah mengundang protes dan kecaman dari berbagai pihak. Karena memang mengklaim sebagai Agama adalah musuh Pancasila tidak boleh mengklaim, seakan-akan menyetujui dan meminta dari Pancasila yang dihambat atau dirongrong oleh Agama.

Semua orang paham tentang Pancasila adalah ajaran dan tuntunan agama.

Terkait, jika Pancasila dipertimbangkan gagal untuk lebih nyata dipraktekkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, itu lantaran pemahaman, penghayatan dan pelaksanaan dari segenap tuntunan dan ajaran agama tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Menghindari culas dan gen yang menyandingkan Pancasila dengan Agama pun tidak perlu terjadi.

Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memang diterima oleh masyarakat.

Tapi gegabah mengakhiri saat reformasi era asas-asas organisasi termasuk partai politik dapat memilih selain Pancasila, seperti Islam, menyetujui bijak yang disetujui sebagai pembalikan dari Orde Baru yang dianggap semena-mena itu. Lebih lanjut gegabah mengatakan “Dari situlah Sebenarnya Pancasila sudah disetujui”, kata Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi kepada tim Blak-blakan detik.com.

Bahkan kemudian Profesor Yudisn Wahyudi menilai
juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai dengan kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Dan mereka yang dimajsudkan harus menyetujui membuat Ulama Ijtima untuk menentukan calon wakil presiden.

Jadi jelas muara dari persetujuan sang Profesor ini sangat kental Bukan moral dan etika serta akhlak mulia yang menjadi takaran beragama.

Karena esensi agama mengedepankan muatan dan nilai-moral serta etika serta akhlak mulia. Tidak boleh untuk gagah-gagahan seperti mereka yang mengaku-aku Pancasilais. Ternasuk semua yang pantas dan pantas dikaryakan di BPIP.

Jakarta, 12 Februari 2020