Home Artikel/Opini Kebangkitan Kristus, Berdaya Ubah dan Berbuah Berkat

Kebangkitan Kristus, Berdaya Ubah dan Berbuah Berkat

49

Oleh:  Sr. M. Stefanita Yogi, PRR*)

 

Dalam menghayati iman Katolik, kita selalu dituntun oleh Gereja Universal dalam bimbingan kongregasi melalui konstitusi, untuk mengalami karya keselamatan Allah yang hadir dalam sejarah. Karya keselamatan Allah yang hadir dalam sejarah ini tertuang dalam perayaan liturgi dan sakramen yang kita terima. Liturgi dan Sakramen itu menjadi daya hidup yang membawa pada pengudusan serta penyelamatan umat beriman. Perayaan keselamatan ini disusun sedemikian rupa dalam sebuah siklus penanggalan yang disebut sebagai kalendarium liturgi. Puncak dari misteri perayaan karya keselamatan Allah dalam sejarah ini adalah misteri Paskah dalam perayaan pesta Paskah. Pada perayaan misteri Paskah ini, kita mengalami kembali Sabda Allah yang berpihak pada kita secara total, dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus.

Perayaan pekan suci diawali dengan perayaan Minggu Palma sampai pada hari Minggu Paskah. Sebelum Pekan Suci, kita menjalani masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari terhitung dari hari Rabu-Abu sampai hari Kamis dalam Pekan Suci itu. Pada hari Rabu Abu, kita menerima tanda abu pada dahi sebagai tanda pertobatan. Oleh karena itu, Masa Prapaskah adalah masa “ret-ret agung” di mana umat beriman dipanggil untuk menjalani laku tapa berupa pantang-puasa, doa dan amal kasih. Selama 40 hari, kita mempersiapkan diri supaya layak dan pantas merayakan peristiwa iman yaitu Kristus yang telah bangkit mulia dalam perayaan hari raya Paskah. Saat kita memasuki perayaan Pekan Suci, Perayaan itu diawali dengan mengenang Yesus memasuki kota suci di Yerusalem. Saat Yesus masuk kota itu, umat menyambut Yesus dengan bersorak-sorai sambil melambaikan ranting-ranting dan daun-daun palem (bdk.Yoh. 12:12-16 ). Peristiwa inilah yang dirayakan dalam Hari Raya Minggu Palma.

Setelah Minggu Palma, kita pun merayakan Tri-hari Suci, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Tiga rangkaian perayaan ini memiliki makna perayaan agung akan karya keselamatan Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Perayaan Kamis Putih merayakan kenangan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama dengan para murid-Nya. Perjamuan itu bukanlah perjamuan kesedihan atau keputusasaan, melainkan sebuah ungkapan Agung dari penyerahan diri Yesus secara total melalui pengorbanan Tubuh dan Darah-Nya (1 Kor 11:23-26).

Peristiwa ini menjadi cikal bakal lahirnya perayaan Ekaristi dalam tradisi Gereja. Pemberian diri Yesus secara total disempurnakan dengan amanat perintah kasih. Para murid Yesus dipanggil untuk saling mengasihi, saling melayani dan merendahkan diri satu akan yang lain (bdk. Yoh.13:1-15). Hal ini diungkapan dengan sangat baik dalam ritual pembasuhan kaki. Selanjutnya, perayaan Jumat Agung adalah perayaan puncak sengsara dan wafat Yesus Kristus. Dalam perayaan ini, kita mengenangkan saat-saat Yesus menderita dan sengsara dalam “via dolorosa” (Jalan Salib) menuju puncak Kalvari. Drama kisah sengsara Yesus Kristus ini atau “passio” biasanya dituturkan, dikidungkan atau didramakan dalam liturgi Jumat Agung (Yoh. 18:1 – 19:42). Dalam perayaan ini tidak ada misa kudus karena Kristus wafat. Maka sebagai ungkapan penghormatan dan cinta kepada Kristus yang wafat itu, diadakan prosesi penciuman salib.

Setelah merayakan perjamuan cinta kasih Yesus Kristus dalam perayaan Kamis Putih dan mengenang peristiwa sengsara dan wafat-Nya dalam perayaan Jumat Agung, maka rangkaian perayaan Trihari Suci dilanjutkan dengan perayaan Sabtu Suci. Perayaan ini adalah perayaan puncak dan paling kudus. Melalui perayaan ini, umat beriman dituntun pada sebuah perayaan agung merayakan karya-karya ajaib Tuhan Allah bagi umat-Nya dimulai dari kisah penciptaan sampai pada karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yang bangkit mengalahkan kekuasaan maut dan dosa. Perayaan Sabtu Suci diawali dengan upacara vigili (Upacara Cahaya) di luar gedung Gereja.

Selanjutnya, perayaan di dalam Gereja ditandai dengan membacakan Kitab Suci mengenai rangkaiaan karya keselamatan Allah dalam sejarah umat manusia yang memuncak dalam peristiwa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Perayaan malam Paskah juga ditandai dengan upacara sakramen baptis dan pembaharuan janji baptis yang sudah diterima oleh setiap umat beriman. Sebagaimana dahulu kala umat Perjanjian Lama melintasi “Laut Merah” memasuki tanah terjanji, demikian pun umat beriman sekarang ini melewati “sakramen baptis” menuju tanah air Surgawi. Maka, perayaan Sabtu Suci dan Hari Minggu Paskah adalah puncak perayaan keselamatan kita. Kita merayakan kebangkitan mulia Yesus Kristus dari alam maut membawa terang kehidupan dan keselamatan kepada semua orang.

Ketika kita merayakan perayaan Pekan Suci, kita mengalami situasi sulit dan gamang. Kita harus tinggal di rumah mengikuti rangkaian perayaan iman itu melalui saluran TV baik lokal, nasional maupun internasional, live streaming atau sarana media sosial lainnya dan perayaan misa tanpa kehadiran umat. Perayaan ini di satu sisi tidak biasa bagi kita, tetapi di sisi lain, hal ini tidak mengurangi makna penghayatan iman kita akan misteri karya penyelamatan Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus.

Kisah sengsara Yesus Kristus menarik kita refleksikan lewat kisah di Taman Getsemani. Karena, di sana Yesus mengalami situasi sulit, pahit dan tak berdaya sebagaimana dikisahkan oleh sang penginjil Markus, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggalah di sini dan berjaga-jagalah” (Mrk. 14:34). Dia pun terpekur dalam hening doa pasrah, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu daripadaku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”(Mat. 26:39). Di sini kita bisa melihat bahwa, Yesus pun disergap oleh penderitaan yang hebat.

Cawan kesengsaraan yang harus Dia pikul terlalu berat bagi-Nya. Dia jatuh dalam keputusasaan dan hampir menyerah dengan berkata, “Biarlah cawan ini berlalu daripadaku.” Yesus, sang Putra Allah, sampai pada titik akhir penderitaan itu. Namun, Dia sadar bahwa bukan hanya kekuatan-Nya sendiri yang Dia andalkan menghadapi semua beban derita itu. Dia bersandar pada kasih Allah Bapa yang akan menyertai-Nya di dalam menanggung sengsara ini. Dia pun memasrahkan semua pergumulan hidup-Nya dengan berseru, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Kita tahu bahwa, Yesus adalah Putra Allah yang penuh kuasa. Namun dalam kisah di Taman Getsemani itu, Yesus juga memperlihatkan secara jelas sisi kemanusiaan-Nya yang merasakan penderitaan dan keputusasaan seperti manusia biasa. Inilah solidaritas dari Yang Ilahi dalam diri Yesus Kristus.

Dalam situasi sulit, Yesus tidak lari, tetapi berpasrah secara total dalam Doa. Hal ironis bisa kita temukan dalam kisah Yesus dan tiga murid yang menemani-Nya di Taman Getsemani. Tiga murid itu adalah Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya. Mereka tiga kali diingatkan oleh Yesus untuk berjaga dan berdoa dalam situasi sulit itu. Yesus pun berpesan,“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; Roh memang penurut tetapi daging lemah” (Mrk. 14:38). Tetapi apa yang terjadi, para murid itu jatuh tertidur dan tidak berdoa. Sementara Yesus berpasrah dalam doa kepada Bapa. Akibatnya, ketika tiba saat Yesus ditangkap, ketiga murid itu lari ketakutan. Sementara Yesus tenang menghadapi semuanya.

Kisah ini mengajak kita untuk setia meneladan Yesus dalam situasi sulit. Kendatipun cemas dan takut melanda hidup kita, tetapi kita tidak boleh menyerah, tidak boleh berputus asa, melainkan berpasrah dalam doa. Dalam doa, Yesus mendapatkan kekuatan dan harapan untuk menghadapi situasi sulit hidup ini. Sang penginjil mengisahkan bahwa “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya.Ia sangat ketakutan dan bersungguh-sungguh berdoa.“Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44).Saat Yesus berdoa peluh-Nya seperti titik-titik darah mengungkapkan sebuah pergumulan hidup yang berat.Namun, di balik pergumulan itu ada tangan kasih Allah hadir atas diri-Nya melalui malaikat yang datang memberikan Dia kekuatan.

Belajar dari kisah Yesus dan memaknai peristiwa sengsara-Nya, kita diajak berpasrah dalam doa (secara pribadi, Komunitas dan Kongregasi ) menjadi harapan dan kekuatan kita merayakan Pekan Suci yang baru kita lewati. Makna dan nilai karya keselamatan Allah melalui peristiwa Paskah Yesus Kristus tidak akan pernah mengurangi iman dan harapan kita dalam merayakan peristiwa agung nan mulia itu. Doa-doa kita selalu disatukan dengan doa Gereja Universal sendiri meskipun karena wabah Covid19 kita tidak berkumpul bersama umat lainnya.

Yesus Kristus mengalami penderitaan, sengsara dan wafat kemudian bangkit mulia, telah terlihat bahwa kita pun tidak pernah menyerah, berputus asa, menyalahkan situasi, bersedih dalam merayakan Pekan Suci dan Paskah mulia di tengah kepungan wabah covid-19 yang telah berlalu. Kita memiliki harapan baru bersama Yesus yang telah bangkit dengan mengatakan habis gelap terbitlah terang). Tuhan menyertai kita!

Selamat berefleksi semoga menemukan DIA dalam keheningan-mu!

Referensi:

LAI: Akitab Deuterokanonika Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru. Jakarta: LAI, 2012.

*)Perefleksi adalah Suster Uniyor Asal Paniai dalam wilayah Meepago Keuskupan Timika yang sedang tinggal di rumah biara komunitas Santa Maria di Angkat ke Surga PRR (Putri Reinha Rosari) Watublapi-Maumere, Flores, NTT (Nusa Tenggara Timur), Indonesia.