Home Artikel/Opini “Kami Rasa Takut Yang Ada Di Dalam dan Kami Juga Takut Kepada...

“Kami Rasa Takut Yang Ada Di Dalam dan Kami Juga Takut Kepada Mereka Yang Ada Di Luar”

166

(TNI-Polri jual senjata dan amunisi kepada OPM dan menjahit bendera Bintang Kejora)

Ole: Gembala Dr. Socratez S.Yoman

“Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar. Karena kami ada keluarga yang kami tinggalkan di Jawa. Mereka mau kami kembali kepada mereka dalam keadaan selamat.”

Pada 6 April 2013, Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua meresmikan Tugu Injil masuk di Beoga, Kabupaten Puncak. Gubernur Papua, Lukas Enembe bersama istrinya Ibu Yulce Wenda hadir meresmikan tugu ini. Saya juga diundang oleh Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay. Saya ikut hadir di Beoga memenuhi undangan warga Kingmi melalui Ketua Sinode.

Semua undangan, termasuk gubernur Papua bermalam di Beoga. Pada malam hari kami diskusi tentang penjualan senjata dan amunusi oleh anggota TNI kepada kolompok Organisasi Papua Merdeka.

Pada saat kami diskusi tentang penjualan senjata dan amunusi yang dilakukan oleh TNI itu, ada juga Dandim Puncak Jaya. Dandim Puncak Jaya sampaikan:

“Memang ada oknum anggota TNI yang menjual peluru kepada teman-teman di luar (baca:OPM). Karena harganya 1 peluru mahal, sekitar Rp 500.000. Karena tuntutan kebutuhan anggota tidak terpenuhi.”

Tidak merupakan rahasia umum dan itu tidak kaget bagi kami tentang penjualan senjata dan amunisi kepada OPM dari anggota TNI.

Karena, kekerasan di West Papua sudah merupakan bisnis subur yang sangat menjanjikan secara ekonomi dan promosi jabatan serta pangkat bagi aparat keamanan TNI-Polri. Jadi, untuk menyuburkan dan mengkekalkan situs kekerasan di West Papua harus ada orang yang dibina dan diperlengkapi dengan senjata dan amunisi. Mereka yang dibina selalu tampil atas nama OPM.

Istilah saya, di West Papua ada OPM Sejati dan OPM Binaan Militer dan Polisi Indonesia. (Baca: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat, Yoman, 2007, hal. 255, dan cetakan kedua 2012, hal. 165).

Selain itu, anggota TNI-Polri juga memesan untuk menjahit bendera Bintang Kejora. Ada seorang teman, orang pendatang yang berbisnis sebagai penjahit, sampaikan kepada saya.

“Pak Socratez, saya sering menjahit bendera Bintang Kejora yang dipesan oleh aparat keamanan.”

Kembali pada topik. “Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar.”

Dari pernyataan ini, patut kita pertanyakan tentang penembakan terhadap anggota TNI-Polri di seluruh Tanah West Papua selama ini.

1. Apakah benar anggota TNI-Polri ditembak mati oleh OPM?

2. Apakah benar anggota OPM yang tidak berpendidikan, tidak terlatih, tidak memiliki ketrampilan (skill) tempur dan menembak itu dapat menembak mati anggota TNI-Polri yang sudah terlatih, apalagi menembak anggota pasukan khusus (Kopassus) di Intan Jaya Desember 2019?

Ada pengalaman dan kejadian dibeberapa kabupaten seperti: Puncak Jaya, Tolikara, Lanny Jaya, Nduga dan….?? Di kabupaten yang disebutkan di sini pernah terjadi penembakan terhadap anggota TNI dan kepolisian.

Sekali lagi, saya bertanya, apakah benar ini pelakunya OPM?

Jawabannya ialah ” Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar. Karena kami ada keluarga yang kami tinggalkan di Jawa. Mereka mau kami kembali kepada mereka dalam keadaan selamat.”

“Kami rasa takut yang ada di dalam…” artinya anggota TNI-Polri juga takut kepada kesatuan-kesatuan tertentu yang dilatih khusus untuk buat skenario kerusahan dan kekerasan dimana-mana.
Kekerasan dan kekacuan harus diciptakan, dipelihara dan ditingkatkan terus-menerus.

Media massa yang dikontrol Negara dengan kekuatan TNI-Polri berperan aktif menyebarkan secara luas, massif dan terus-menerus untuk membangun opini publik. Kebohongan telanjang itu menjadi kebenaran. Rakyat awam yang tidak kritis menerima dan menelan mentah dan utuh berita hoax yang dikreasi aparat keamanan Indonesia.

Fakta yang pernah saya temukan sebagai contoh. Pada 16 Agustus 2004, anggota Kopassus dibawah pimpinan Dansatgas BAN-II/Koppasus, Letkol.Inf. Yogi Gunawan menembak mati Pendeta Elisa Tabuni.

Headline (Berita Utama) media Cenderawasih Pos menulis berita penembakan ini selama 3 bulan berturut-turut dari Agustus-Oktober 2004. “OPM pimpinan Goliat Tabuni menembak mati pendeta Elisa Tabuni.” Fakta dilapangan membuktikan bahwa pembunuh pendeta Elisa Tabuni ialah TNI dari kesatuan Koppasus.

Apa tujuan konflik, kekerasan dan kekacauan ini diciptakan dan dipelihara oleh TNI-Kepolisian di West Papua?

Supaya TNI-Kepolisian ada alasan pembenaran (justifikasi) untuk beberapa tujuan:

1. Ada alasan untuk menambah dan menempatkan pasukan TNI-Polri dengan membangun Kodim dan Polres serta kesatuan-kesatuan lainnya. Dengan kata lain, kekerasan yang diciptakan aparat keamanan TNI-Polri ialah merampok dan menjarah tanah Penduduk Asli Papua dengan tangan besi dan tangan yang berdarah-darah.

2. Ada alasan untuk mendapat anggaran operasi dari pusat, provinsi dan kabupaten dimana konflik sudah diciptakan. Karena, daerah aman, TNI-Polri tidak dapat anggaran yang memadai.

3. Mengusir Penduduk Asli Papua bila tempat itu ada pontensi Sumber Daya Alam (emas dan kayu serta rotan). TNI-Polri mau merampok, mencuri dan menjarahnya tanpa perlawanan Penduduk Asli sebagai pemilik tanah itu.

4. Ada alasan dan dasar untuk membantai, membunuh dan memusnahkan Penduduk Asli Papua merupakan agenda dan misi utama pemerintah kolonial Indonesia.

5. Menciptakan iklim trauma dan ketakutan kepada seluruh Penduduk Asli Papua supaya merasa takut, membisu, diam dan tunduk serta bernasib menyerah kepada para kolonial Firaun dan Goliat moderen Indonesia yang kejam dan brutal yang tidak mengenal kebenaran dan tidak menghargai martabat sesama manusia.

Mari, kita ikuti perintah Prabowo Subianto untuk menghadapi rakyat Papua:

“Papua menjadi prioritas utama, tidak boleh lepas dari Indonesia. Hapus intervensi asing”.

“Jeremy Corbyn (pemimpin partai buruh) berpeluang menjadi PM Inggris, dimana dia memberikan dukungan kepada Benny Wenda. Harus diambil langkah strategis.”

“Kita tidak akan ijinkan kegiatan Papua Merdeka di ibu kota kabupaten, propinsi apalagi negara. Laksanakan operasi teritorial, intelijen dan tempur dari semua Matra.”

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno memberikan kesimpulan yang akurat dan tepat tentang keadaan rakyat Papua yang sangat buruk selama ini dalam bukunya: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme (2015, hal. 255, 257).

“…Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia….Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal. 255).

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal. 257).

Para pembaca mulia dan terhormat. Mari, kita, renungkan, kritisi, dan analisa pernyataan ini. Kita jangan hambing hitamkan Orang Asli Papua. Kita harus membuka lensa penguasa sebagai penindas dan penjajah rakyat dan rakyat West Papua selama ini. Kita harus menggunakan lensa Tuhan, lensa kemanusiaan, lensa keadilan, lensa kebenaran, lensa kejujuran, lensa kasih.

“Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar. Karena kami ada keluarga yang kami tinggalkan di Jawa. Mereka mau kami kembali kepada mereka dalam keadaan selamat.”

Ita Wakhu Purom, Senin, 23 Desember 2019

Penulis adalah Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua