Home Artikel/Opini Jangan Terlena “Kau Papua”, Bangsamu Sedang Mati!

Jangan Terlena “Kau Papua”, Bangsamu Sedang Mati!

148

Oleh: Willy Sardi

Jangan Terlena “Kau Papua”, Bangsamu Sedang Mati!

Saya sebagai orang Melayu, yang lahir di Jakarta, yang mempelajari ilmu-ilmu sosial dan belum lama tinggal di Papua ini sedang melihat kamu terlena tetapi sesungguhnya kamu sedang mati, bangsa kamu akan segera tinggal cerita.

Karena itu, saya hanya mau memberitahukan tanda2 kematian masa depan anda secara pribadi dan bangsamu di masa depan. Saya cukup beritahu dan anda sendirilah cari solusinya, apa solusi yang tepat atas kondisimu, kondisi bangsamu.

Berikut tanda-tanda kamu orang Papua dan bangsamu akan tinggal cerita segera:

Pertama, kalian, orang Papua kini punya satu musim baru. Musim yang tak banyak saya jumpai di Jawa, bahkan dalam buku sejarah. Bukan hanya musim matoa, musim kemarau atau musim mangga, musim muntaber untuk anak-anak kalian. Tapi, musim baru kalian adalah musim kematian tiba-tiba. Hari-hari ini, tidak hanya pimpinan gereja kalian saja yang mati tiba-tiba tetapi lihatlah di sekeliling anda, banyak orang Papua mati tiba-tiba.

Tidak ada yang tahu pasti penyebab musim baru itu. Mereka mati misterius.

Kedua, ini lanjutan dari yang nomor satu di atas. Kalian orang Papua kini punya satu penyakit baru yang belum banyak dijumpai di dunia kedokteran modern. Penyakit itu ialah penyakit “jatuh”. Para pemimpin gereja kalian mati karena penyakit “jatuh”. Ini penyakit berbahaya.

Coba kalian, orang Papua renungkan, Pastor Nato Gobay, jatuh tiba-tiba di kamar mandi dan meninggal. Itu setelah 30 menit sebelumnya memimpin ibadah di salah satu gereja katolik di Nabire sana.

Pastor Yulianus Mote, dikabarkan jatuh pingsang tiba-tiba di bandar udara wamena saat berangkat dari Jayapura ke Wamena. Ia berobat tetap tidak tertolong dan meninggal.

Pastor Neles Tebay jatuh tiba-tiba di ruang kuliah di salah satu kampus calon imam di Jayapura. Ia berobat dan tidak tertolong dan kemudian meninggal.

Kemudian, Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil jatuh di halaman rumah uskup dan meningal. Ia meninggal setelah sebelumnya memimpin misa.

Kalian, orang Papua tahu bahwa mereka jatuh karena mereka ini pimpinan umat dan informasinya disebarkan. Coba cari tahu dan hitung sekeling anda, berapa orang lain lagi yang mati dengan model ini. Banyak.

Ketiga, para pimpinan kalian mati misterius. Dalam sejarah yang saya pelajari, kematian pemimpin adalah pukulan telak, ia adalah kematian sebuah komunitas, kematian bangsa. Kematian pemimpin adalah duka panjang, bukan karena semata2 kehilangan fisik tetapi ia membawa pergi ide, gagasan, semangat, dan visi.

Mereka yang meninggal saat-saat ini adalah pemimpin gereja. Banyak pemimpin kalian di birokrasi dan politik juga mati misterius, ada yang pelan-pelan, ada yang mati seketika. Kalian tahu, Arnold Ap, Theys, Gubernur Salosa, Wospakrik, Agus Alua, dan anda pasti tahu yang lain. Yang wajar adalah meninggal normal karena sakit atau sudah umur tua.

Anda pasti tahu yg mati berlumuran darah, pasti banyak. Ini yg misterius..

Keempat, kalian banyak doktor dan master. Sarjana berlimpah. Ada tamatan luar negeri, ada tamatan dalam negeri dan ada yang tamat di tengah realitas yang membunuh kalian di Papua.

Tapi, kalian diam atas masalah2 bangsamu yang sudah stadium empat ini, jika itu adalah penyakit.

Gelar kalian hanya di atas kertas, tak bisa buat apa-apa untuk tanah airmu. Anda hanya urus perutmu, anda hanya urus jabatanmu, anda terhanyut dalam rutinitasmu dan tepuk dada, bangga dgn gelarmu.

Anda tidak menulis, anda tidak buat kajian, anda tidak berjuang, anda jijik berada di jalanan untuk melawan, anda tidak menjadi diplomat, anda tidak urus tanah adatmu, anda tidak mendidik kaummu.

Itu artinya, anda memang ingin membiarkan bangsmu mati atau gelarmu hanya di atas kertas dan tidak belajar sungguh-sunggu untuk mengerti realitasmu.

Apakah anda sengaja ataupun tidak paham, yang jelas, saya mau memberitahu bahwa, ketika orang sekolah (doktor, master, dan sarjana) diam membisu maka itu tandanya bangsa itu sedang mati pelan-pelan. Matinya aktivitas intelektual adalah matinya sebuah bangsa.

Kelima, orang Papua lupa budaya. Budaya bukan sekedar pakaian adat, tapi keseluruhan tatanan kehidupan: religi, sistem politik, mata pencaharian, kesenian, peralatan, bahasa, sistem dan pengetahuan.

Kalian gengam erat-erat segala yang baru datang. Lalu, kalian lupa diri dan terlena dan mereka ambil apa yang kalian tinggalkan.

Jangankan budaya, anda tinggalkan mamamu sendiri, anda pergi kawin dengan yang putih. Yang putih dan semua yang datang dari luar lebih baik. Itu cara anda membunuh mamamu, budayamu dan masa depan bangsamu secara pelan tapi pasti.

Keenam, kalian pemalas dan hidup dari belas kasihan dan judi. Kalian, orang Papua itu saya amati pemalas, duduk saja, cerita-cerita saja, habiskan waktu. Jalan minta sana minta sini sama saudara lain, harap sana harap sini. Setelah dapat uang habiskan saat itu juga, sisanya main judi, togel. Uang habis jalan minta lg ke saudara padahal sudah sarjana, padahal sehat dan badan kuat, padahal hutanmu luas, tanahmu subur.

Satu pemuda bisa habiskan uang 3 atau 4 juta dalam satu bulan. Uang itu dapat dari mana, sedangkan ia tidak punya pekerjaan, tidak punya kebun, tidak punya ternak? Jawabannya adalah ia dapat dari belas kasihan orang lain dan judi.

Saya ketemu dua pemuda di Kantor Gubernur. Tas mereka berisi. Saya ajak cerita, apa yang mereka isi dan apa kerja mereka. Yang mereka isi adalah proposal dan buku togel. Mereka begitu polos, saya amati mereka keliling jual-jual proposal dari satu ruangan ke ruangan lain di kantor gubernur. Mereka tidak bekerja, satu orang sarjana dan satunya lagi pemuda.

Satu kesempatan, saya dengan beberapa teman kami kerja borongan di tanah Hitam. Kami pendatang dua orang dan mereka anak Papua tiga orang. Kami dibayar masing-masing orang Rp. 4.700.000. Satu minggu kemudian, saya tanya, masih adakah yang itu? Uang mereka sudah habis. Satu orang beralasan, uang itu bayar SPP adiknya. Satu lagi, bagi-bagi dengan keluarga. Satu lagi yang parah, ia menyesal karena uang itu habis minum dan main togel.

Tidak banyak orang Papua yang saya jumpai hargai proses dan tekun serta hemat. Sebagian hanya mau cepat jadi dan kejar yang besar, tidak ada usaha-usaha kecil, kecuali mama-mama yang jualan. Anak muda takut jualan, jaga gengsi, jalan rapi-rapi tapi dompet kosong.

Ketujuh, perempuan muda Papua hancur. Sore-sore, apalagi malam minggu kota Jayapura penuh gadis-gadis belia Papua bercelana mini. Mulut penuh pinang dan rokok di tangan.

Mereka berkelompok hingga larut malam. Mereka buat apa? Mereka menunggu bookingan dari siapa saja yg mau ajak jalan, sekedar minuman keras atau seks dengan bayar murah. Yang penting dapat uang, entah 100 ribu. Ada yang anak sekolah dan ada yang sudah tidak sekolah. Saya ajak ngobrol, mereka cerita di rumah tidak ada makanan dan cari uang sekolah.

Jika perempuan hancur, bagaimana mereka akan menikah, mengandung, melahirkan anak yang sehat dan mendidiknya menjadi besar untuk gantikan pemimpin kalian yan g sudah banyak mati. Bagaimana mereka akan urus suami jika sudah hancur begini. Perempuan kuat, bangsa kuat.

Kedelapan, orang tua malas tahu degan pendidikan anak. Tidak ada budaya belajar di rumah. Beberapa rumah di teman-teman Papua tidak ada meja belajar untuk anak mereka. Satu kamar, anaknya dengan dua tiga orang tamu dari saudara lain. Sore hari anak-anak tidak ada kebiasaan belajar di beberapa rumah yang saya kunjungi. Makan malam larut malam sekali, ada yang jam 09, anak yang paling kecil sudah tidur. Ayah dan ibu, punya urusan masing-masing, tidak dampingi anak belajar.

Pada pagi hari, saya perhatikan di jalanan, tidak banyak orang Papua yang antar anak ke sekolah. Padahal di rumah ada mobil dan motor. Ada satu pejabat punya mobil dua dan motor ada satu di rumah tetapi pagi hari dia bagi uang sama anaknya. Dia tidak antar, anak jalan sendiri dan naik ojek. Ini bukan soal kasih uang tapi ini soal bagaimana bentuk kasih sayang orang tua. Pendatang juga punya uang tapi mereka antar anak mereka, lihat di lampu merah pagi hari. Bicara tuan tanah tapi tidak urus pendidikan anak baik-baik, bagaimana mau jadi tuan rumah.

Kesembilan, kakak saya kenal banyak orang Papua yang menyebut diri pengusaha tapi setelah saya tanya pengusaha itu artinya punya CV dan PT. Mereka jalan cari proyek di dinas-dinas, setelah dapat, kerja selesai dan uang habis. Tidak ada yang buat unit usaha yang profit atau datangkan uang. Ini beda dengan pendatang.

Kesepuluh, jual tanah. Orang Papua jual tanah kepada kami. Kalian tidak kontrak. Padahal kalian punya anak banyak. Anak-anak kamu akan ke manakan kalau sudah kami kuasai semua.

Kesebelas, Sekolah pinggiran dan kampus dan jurusan yang bisa cepat jadi sarjana. Tidak banyak anak-anak Papua yang masuk di sekolah bermutu. Anak-anak Papua banyak saya jumpai di sekolah-sekolah pinggiran, sekolah yang dapat nilai gampangan dan masuk di perguruan tinggi yang biasa-biasa pada jurusan-jurusan sosial semua. Jadi, orientasi mencari nilai dan ijazah, tidak cari kemampuan otak dan keterampikan untuk hidup kalian.

Keduabelas, kampus-kapung sepi dengan mimbar akademik. Tidak banyak kampus di Papua yang lakukan seminar-seminar atau aktivitas lain. Para dosen juga tidak banyak yang menulis karya ilmiah yang terkait degan bidang ilmu atas kondisi rill di Papua.

Ketigabelas, ruang ekspresi disumbat. Saya lihat hal berbeda di Papua dengan di Jawa. Di sini, orang tdk boleh demo, langsung ditangkap atau dibubarkan dititik aksi.

Ketigabelas, saya tidak jumpa wartawan luar negeri di Papua. Media-media di Papua saya tidak temukan bikin liputan yang berkualitas. Saya menyebut majalah dinding sekolah/pemerintah.

Keempatbelas, yang jual ikan kebanyakan bukan orang Papua, yang jual hasil kebun kebanyakan bukan orang Papua, yang tambang rakyat juga bukan orang Papua, yang jual pinang juga sekarang bukan orang Papua, apalagi kios atau toko.

Kelimabelas, petinggi Papua di Jayapura kebanyakan hanya bicara-bicara saja di media, tidak banyak aksi nyata. Tidak ada kepercayaan diri juga padahal Papua itu kaya dan punya posisi tawar dengan Jakarta yang sangat tinggi.

Keenambelas, birokrasi dan parlemen sudah dikuasai oleh kami, orang pendatang.

Ketujuhbelas, orang Papua terlalu dewakan kami pendatang. Dewa jadi diberi apa pun, harga dirinya pun kalian berikan, kamu beri marga dan angkat jadikan kepala suku, nobatkan jd anak anaklah. Lalu, di mana posisi kalian orang Papua di sana. Kalian itu sebenarnya sedang bimbang.

Kedelapan belas, kalian orang Papua itu mudah dibeli dan tidak bisa bersatu dan mudah diprovokasi, mudah dikotak-kotakkan dengan istilah gunung dan pantai sehingga kalian terhanyut dalam adu domba, lupa daratan tanah besar Papua bahwa kalian adalah tuan tanah.

Kesembilanbelas, kalian “panas-panas tai ayam” dan “makan mentah ajaran kasih.” Tuhan musnahkan musuh Israel di laut merah.

Keduapuluh, kalian, orang Papua tidak peduli dgn KNPB dan ULMWP, padahal itu sarana perjuangan untuk pembebasan kalian dan bangsa kalian. Kalian baku makan, kami tertawa.

Kalian tambah sendiri. Ada banyak tanda kalian ini sesungguhnya akan segera tiada. Pikirkan dan renungkanlah sodara.

Dari sodara kalian, Willy Sardi, Jayapura.