Home Mamta Ini Tanggapan PGGS Jayapura atas Homili P. Managumtua Herry Berthus Simbolon, SJ

Ini Tanggapan PGGS Jayapura atas Homili P. Managumtua Herry Berthus Simbolon, SJ

49

Jayapura, JELATANP.com – Baru-baru ini beredar video homili Pastor Managumtua Herry Berthus Simbolon, SJ di media sosial. Homili yang disampaikan di Gereja Katedal Jakarta, yang kurang lebih berdurasi dua puluh menit itu mendapatkan reaksi banyak pihak dari Papua. Reaksi ini muncul karena homilinya dianggap merendahkan orang Papua. Ini adalah salah satu tanggapan dan permohonan dari Persekutuan Gereja-Gereja Se-Kota (PGGS) Jayapura.

Pdt. Dr. James Wambrauw, M.Th, selaku Ketua Umum PGGS – Jayapura menyampaikan fenomena spiritual yang terjadi di Papua di musim natal dan viral sampai tahun baru ini, maka catatan kritis perlu di sampaikan secara iman Kristiani untuk membangun penggembalaan internal Gereja.

Berikut tanggapan dan permohonan yang media ini terima:

Shalom Saudara-saudaraku semua dan Gereja-Gereja di Tanah Papua!

Saya ucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2020!

Kiranya Umat Kristiani dan OAP tetap damai dan diberkati Tuhan Yesus Gembala yang Baik.

Membaca fenomena dan “peta spiritualitas” yang sedang terjadi di musim Natal 2019 dan viral sampai saat ini di tahun 2020, maka beberapa Catatan kritis pastoral berikut perlu dinyatakan secara Iman Kristiani untuk membangun penggembalaan internal kita.

Atas Nama Persekutuan Gereja-Gereja Sekota (PGGS) Jayapura:

Saya minta dengan hormat kepada Saudara P. Managumtua Herry Berthus Simbolon, SJ supaya:

1. Saudara harus segera meminta maaf dalam.bentuk tertulis dan lisan kepada umat Kristiani (Kristen dan Katolik) di atas Tanah Papua atas “khotbah” Natal yang meresahkan persekutuan Tubuh Kristus Indonesia, khususnya di Tanah Papua.

2. Saudara harus menyadari bahwa Orang Asli Papua (OAP) dan Umat Kristiani di tengah situasi menghadapi berkembangnya “rasisme” beberapa waktu lalu di Republik ini secara nasional, khususnya di Tanah Papua telah MELUKAI OAP belum pulih. Ternyata Saudara sebagai seorang “gembala” atas umat sendiri telah membuat luka baru di akhir 2019 dan awal Tahun 2020 dengan menjadikan Umat dan OAP” gembalaan Saudara sendiri sebagai bahan “ajar dan ceramah” Natal yang irrelevan dengan konteks keprihatinan dan simplisiti dari peristiwa Natal 2000 tahun lalu di Betlehem.

3. Saudara, apakah TIDAK BELAJAR dengan baik tentang Adat istiadat masyarakat dan lingkungan tempat dan di mana Saudara saat ini sedang melayani. Saudara harus TAHU bahwa Umat Kristiani dan OAP sedang merindukan belaian kasih mesra, pemulihan dan penguatan dalam menghadapi pergeseran nilai kemanusiaan dan kekerasan politis terhadap integritas OAP sebagai makhluk Tuhan yang berharga di Tanah Papua.

4. Saya Sangat menyayangkan pernyataan dalam khotbah saudara sebagai Seorang Pastor yang berpendidikan tinggi, namun telah meremehkan dan merendahkan OAP dalam jemaat dan menggunakan keberadaan etnik kawanan domba itu sebagai bahan ajar dan bahan ilustrasi (guyonan) yang sesungguhnya tidak tepat, tidak ada nilai edukasi sama sekali dan telah melanggar kode etik penggunaan bahasa pastoral di sebuah mimbar yang kudus di hari Natal 2019.

5. Karena itu, Saya mohon kepada Bapak Uskup/petinggi Gereja Katolik setempat (yang berkompeten) untuk secepatnya memberikan TEGURAN KERAS tertulis kepada Pastor tersebut agar belajar dari kesalahan teologis serta PEMAHAMAN KONTEKSTUAL yang sangat dangkal dan bersifat “judgemental” serta DISKRIMINATIF terhadap OAP yang adalah sasaran pelayanan dan FOKUS dan SUBYEK yang harus dipedulikan dan dihormati harga diri dan nilai-nilai culturalnya.

6. Apapun alasannya (sebagai contoh kreatifitas) tidak pantas sama sekali untuk digunakan di tengah forum publik yang sakral di Gereja Katedral Jakarta untuk memberi tahu kepada orang lain betapa “bodoh…sulit…tak mampunya umat OAP”.

7. Untuk kebaikan semua pihak dan demi kepentingan PELAYANAN PASTORAL ke masa depan yang lebih baik, maka saya minta agar Pastor tersebut diistrahatkan untuk sementara waktu sambil dibina sampai yang bersangkutan siap untuk melayani OAP di Tanah ini! Jika tidak siap, maka sebaiknya Saudara Pator tersebut dikeluarkan dari Tanah Papua.

Demikian tanggapan dan permohonan saya kepada semua pihak yang berkompeten, terutama Pastor Herry Berthus Simbolon, SJ

Dengan kasih dan harga diri dalam Yesus!

Pdt. Dr, James Wambrauw, M.Th.
Ketua Umum PGGS Jayapura

Video homilihnya telah dimuat oleh media Suara Papua dan anda bisa nonton di bawah ini:

 

 

(Editorial, Jalata News Papua)