Home Lingkungan Hutan Papua Adalah Gadis yang Tersembunyi

Hutan Papua Adalah Gadis yang Tersembunyi

176

Oleh: Efendi Minai

Hutan merupakan tempat yang berdomisilinya flora dan fauna dan berbagai ekosistem yang saling berinteraksi di alam bebas. Manusia salah satu makhluk hidup yang berinteraksi dengan alam sekitarnya untuk menjaga dan melesatrikan alam, maka hutan papua diimpikan untuk memiliki di berbagai penjuru dunia. Ada yang bilang hutan papua adalah paru-papru dunia, ada juga yang bilang tanah papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Oleh karena itu, dibalik berbagai perspektif, harkat dan martabat orang Papua tidak ada nilai dimata Dunia.

Hutan Papua adalah, salah satu sarana atau sumber kehidupan bagi orang Papua. orang Papua masih bernafas karena OAP memiliki sumber hidup dari hutan. Tradisi orang Papua sendiri, kehidupanya tergantung pada alam sekitarnya. Selain itu orang Papua merasa sejahtera dan hidup makmur jika mereka tidur bangun berdampingan dengan alam sekitarnya.

Hutan Papua ketika terjadi defortasi, degradasi, atau terjadi fragmentasi akibat beralihfungsi lahan maka orang Papua kehilangan hidup. Maka itu orang Papua hidup ketika orang asli Papua hidup berdampingan dengan alam sekitarnya.

Rector Universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura bilang alam Papua diibaratkan “seorang gadis, orang asli Papua sendiri diibaratkan “orang tua dari seorang gadis”, maka lelaki yang mau melamar si gadis, tidak boleh datang melamar kepada orang tuanya dalam keadaan niat jahat. Ketika lelaki diciptakan niat jahat untuk mengejar gadis maka konflik orang tua dan lelaki selalu ada dalam hidup. Maka kedamaian tidak akan terjadi apabila tidak ada damai antara si lelaki dan orang tuanya. Oleh sebab itu, berpotensi konflik Papua decade ke dekade untuk memiliki gadis yang tersembunyi tersebut.

Gadis Tersembunyi

Sejak tahun 1961 Papua bersama Indonesia, Indonesia bepikir untuk memiliki gadis di Papua, tetapi pendekatan yang ia bangun dengan orang tuanya berniat jahat.

Bagaimana pendekatan yang ia bangun dengan orang tuanya? Apa itu berniat jahat? Pertanyaan itu tentu bisa menjawab oleh pembaca sendiri. Disini penulis menjawab dengan siangkat dua pertanyaan. sebelumnya, jawabannya “di Papua masih dalam ranah konflik, konflik di aspek apa saja, aspek pendidikan, kesehatan, politik, kehidupan sosial, dan konflik tanah. Oleh karena itu orang tuanya tidak diberikan kepada laki-laki jahat.

Dalam tulisan ini, manusianya di anggap tidak bernilai sesuai dengan fakta hari ini, karena potensi konflik diatas gadis, martabat dan harga diri manusianya direndahkan maka Indonesia memiliki hanya menghasratkan pada gadis tidak manusiawi.

Gadis yang tersembunyi di Papua merupakan, sumber kehidupan orang asli papua, logikanya sementara gadis bersama orang Papua maka orang Papua tetap hidup. Oleh sebab itu orang asli Papua tidak diberikan hak kepada laki-laki jahat secara penuh. Keinginan orangtuanya gadis itu, laki-laki boleh duduk bersama kami, tetapi engkau mampu menjaga, melestarikan, melindungi kekayaan yang kami miliki ini, Maka kami terus melarang untuk merusak dan menghastratkan pada kekayaan dan gadis kami.

Pendekatan yang Dibangun untuk Memiliki Gadis yang Tersembunyi

Pertama, Pendekatan militerisme adalah tradisi yang tidak relevansi dengan budaya orang Papua, maka bagi orang Papua militer dan senjata adalah bukan untuk syarat memiliki gadis yang tersembunyi dan juga bukan untuk menakuti-nakuti orang asli Papua diatas tanah Papua. Militer dan senjata berfungsi untuk menjaga dan melingdungi orang tua dan gadis yang diimpikan.

Kedua, pendekatan perdagangan merupakan perkaya diri atas kekayaan orang tua dan gadis di Papua, perkaya diri tidak relevansi juga dengan budaya orang asli orang Papua. Orang asli Papua dibesarkan dalam kehidupan sosial, dan orang Papua mengakui sebagai manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain, maka orang Papua saling bergotong-royong dalam kehidupan sosial.

Kesimpulan

Gadis yang tersembunyi di Papua, lelaki siapapun tidak bisa memilikinya, jika memiliki potensi konflik terus terjadi karena orang Papua akan terus mengingat masa lalu “seperti duri dalam daging” maka kembalilah ke tempat asalmu, jangan lagi datang untuk menyakiti orang tua di Papua.
Kehidupan kamu dengan kehidupan orang tua yakni orang asli Papua sangat tidak relevansi untuk kita bersama lagi.
Salam berjuang!