Home Artikel/Opini HUT Noken Papua Ke-9, Mari Kita Peduli Noken Papua

HUT Noken Papua Ke-9, Mari Kita Peduli Noken Papua

61

Oleh: FlorentinusTebay)*

Tanah Papua selain dikenal karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, tanah Papua juga dikenal karena beragam suku, bahasa, dan budaya, termasuk kearifan lokal. Noken adalah salahsatukearifanlokal Papua yang diwariskanolehtete-nenemoyang orang Papua.Bagi orang Papua noken adalah satu benda yang istimewa dan unik. Tapi, persoalannya sudah sejauhmana tingkat kepeduliaan kita orang Papua juga pemerintah terhadap noken Papua. Bagi saya hingga saat ini pemerintah masih belum peduli terhadap noken Papua.Pemerintah belum peduli Noken (Suara Papua.Com/2019/11/22).

Bentuk ketidakpedulian terhadap noken ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Lihat saja ketika kita jalan di wilayah kota Jayapura pasti kita bertemu mama-mama Papua yang sedang berjualan noken di pinggiran jalan. Diantaranya seperti, di lingkaran Ekspo-Waena, di putaran Perumnas III-Waena (asrama uncen dan sekitarnya), di tanjakan Ale-Ale, di lingkaran Abepura, di depan Saga Mall dan sekitarnya, dan di pinggiran jalan Jayapura kota. Realitas telah membuktikannya bahwa hingga kini pemerintah masih belum peduli terhadap mama-mama Papua yang selalu menjual noken Papua. Pertanyaannya, ialah Mengapa kita (Pemerintah) belum peduli terhadap Noken Papua? Bukankah kita bagian dari noken Papua?

Beberapa Alasan yang Mendasari Pentingnya Peduli terhadap Noken Papua

Ada beberapa faktor yang mendasari akan pentingnya kepedulian kita terhadap noken Papua. Pertama: bahwa di dalam Noken terdapat nilai-nilai hidup bagi kita orang Papua. Diantaranya seperti, kejujuran, kedamaian, kekerabatan, dan kebaikan yang selalu mewarnai di dalam seluruh dinamika kehidupan sosial-budaya bagi kita orang Papua di Papua.

Kedua: Karena Noken adalah salah satu cirri khas budaya orang Papua. Lihat saja bahwa pasti kali kita jumpai orang Papua pasti membawa noken. Orang Papua itu sangat identik dengan membawa noken saat kemana ia pergi.

Ketiga: Karena noken bagi orang Papua adalah harga diri, identitas, harkat dan jatidiri bagi masyarakat Papua pada umumnya. Oleh karena itu, Kita mesti menjaga dan melestarikan noken sebagai bagian dari seluruh dinamika kehidupan kita orang Papua.

Keempat: Sudah diakui bahwa sejak lahir noken sudah menjadi bagian dari seluruh kehidupan kita orang Papua. Saya ingat sewaktu masih kecil, mama saya membaringkan saya di dalam noken buatannya. Oleh karena itu, Saya meyakini bahwa saya adalah bagian dari noken dan noken adalah bagian dari kita orang Papua.

Kelima: Karena noken mempunyai simbol, lambang, dan punya filosofi (Pandangan hidup) serta merupakan satu warisan budaya leluhur dari moyang kita orang Papua. Sudah sejak dahulu noken Papua diakui sebagai salah satu warisan budaya leluhur dari orang Papua.

Keenam: Karena noken itu sendiri punya nilai (Antropologis dan Sosiologis). Lihat saja dalam kultur (Budaya) orang Papua punya kebiasaan merajut noken. Artinya bahwa budaya orang Papua punya keunikan dan kekhususan tersendiri. Oleh karena itu, noken tidak dapat disamakan dengan budaya dari daerah lain.

Ketujuh: Noken adalah atribut budaya orang Papua. Lihat saja ketika mengadakan festival budaya di Papua, pasti saja orang membawa noken sebagai bentuk pengakuan diri bahwa dirinya adalah bagian dari noken sebagai bagian dari budayanya. Ia (Noken) membentuk mentalitas budaya diri kita orang Papua.

Kedelapan: Noken tidak sama dengan tas modern, karena ia punya keunikan tersendiri. Di dalamnya terkandung beragam makna dan arti. Noken adalah lambing kebesaran dalam seluruh dinamika kehidupan bagi orang Papua.

Akhirnya bahwa dengan memperingati HUT Noken Papua yang ke-9 (4 Desember 2012- 4 Desember 2019) ini, mari kita orang Papua dan terutama pemerintah Papua bersama-sama peduli terhadap noken Papua, karena noken Papua telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational Scientific and Cultur Organization (UNESCO). Dengan nama sang pejuang noken Papua, Titus Pekei, yang tak kenal lelah sejak 2008 menggagas noken sebagai warisan budaya dunia.

Upaya Menyelamatkan Noken Papua

Pertama: Mari kita orang Papua, terkhusus pemerintah Papua (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), supaya segera peduli terhadap mama-mama Papua yang selalu berjualan noken di pinggiran jalan. Artinya bahwa mungkin pemerintah bisa menyediakan tempat yang layak bagi penjualan Noken Papua.

Kedua: Bagi kita orang Papua dituntut, agar tetap membawa noken di setiap waktu kemanapun kita pergi, sebab ini merupakan salah satu bentuk upaya kita dalam menyelamatkan noken. Ingatlah bahwa noken adalah bagian dari diri ko, za, dia,dan tong punya. Mari bersama-sama menjaga, melestarikan dan selamatkan noken Papua sejak dini.

Ketiga: Bagi pemerintah bahwa dalam upaya peduli dan menyelamatkan Noken Papua ini, kiranya buku Cerminanan Noken Papua karya Titus Pekei menjadi pedoman pokok.

SELAMAT ULANG TAHUN NOKEN PAPUA

Semoga!

)* Penulis adalah Mahasiswa Semester III dan anggota Group Kebadabi Voice di STFT “FajarTimur”, Abepura, Jayapura, Papua.

 

Referensi

Pekei, Titus. Cermin Noken Papua. Jalan Mandala No. 20 Kalibobo-Nabire: Ecology Papua Institute-EPT, 2011.

https://www.SuaraPapua.com. Pemerintah Belum Peduli Noken. Diaksespada, Senin, 2 Desember 2019.Pukul.18.09. WIT.