Home Artikel/Opini Hilangnya Moralitas Pemimpin di Papua Akibat ‘Hasrat Gelap’

Hilangnya Moralitas Pemimpin di Papua Akibat ‘Hasrat Gelap’

129

Oleh : Yeri Delka*

Hasrat terus ada dalam diri semua orang.  Hasrat manusia adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami. Hasrat itu sendiri pada akarnya terkait dengan keinginan (nafsu/harapan) yang harus dipenuhi. Peradaban kita mengajarkan untuk meredam hasrat yang mengarah kepada kepentingan ego, karena hasrat ego dianggap sebagai sumber dari semua kejahatan. Para pemimpin adalah sosok yang patut diteladani oleh semua orang, maka ia harus menjadi model yang baik.  Yang pastinya adalah pemimpin berasal dari masyarakat, dipilih oleh masyarakat dan oleh karena itu pemimpin harus berkarya demi  masyarakat. Ia harus menguburkan hasrat dan popularitas diri demi mencapai suatu tujuan yang baik. Hasrat gelap secara perlahan namun pasti selalu menghantui dan menjajah para pemimpin jika tidak bijaksana dalam mengaturnya. Hal ini perlu menjadi kesadaran bersama para pemimpin karena hasrat ego selalu mengarah kepada kenikmatan. Apapun yang nikmat pasti melibatkan pemenuhan hasrat dibaliknya.

Kekuasaan jabatan dalam mencari popularitas diri bukanlah hal yang biasa, tetapi sudah menjadi budaya di atas tanah Papua. Sebut saja sudah beberapa periode pemerintahan berjalan di Papua, banyak oknum pemimpin yang ditangkap dan diperiksa kemudian menjadi tersangka korupsi beberapa proyek. Menurut Rhenald Kasali menempatkan populerisme sebagai salah satu budaya yang menghambat perkembangan bangsa. Hasrat menjadi penguasa adalah tindakan yang memberikan kenikmatan. Tindakan korupsi adalah salah satu hasrat gelap yang ada dalam diri setiap pemimpin. Jika orang berhasil menjadi pemimpin, ia akan memperoleh kenikmatan yang besar dan melupakan tujuan dan cita-citanya sebagai pemimpin. Masyarakat menjadi korban dari penyalagunaan jabatan. Para pemimpin berusaha meyakinkan orang dengan argumen-argumen yang luar biasa, tetapi praktik dalam kepemimpinan tidak menunjukkannya. Banyak pemimipin di Papua yang belum sepenuhnya berjuang untuk membangun daerah. Dengan memanfaatkan otoritas sebagai pemimpin untuk kepentingan sendiri, sehingga berakibat pada kurangnya pembangunan yang memadai. Pengelapan uang (korupsi) semakin meningkat karena para pemimpin berlandaskan pada nilai yang salah. Tindakan ini terus dipertahankan dalam diri seorang pemimpin, maka tentu memberikan sebuah dampak yang negatif, yakni melemahnya kepercayaan dari masyarakat. Ketulusan dari seorang pemimpin yang merakyat pasti menciptakan nilai yang baik. Maju mundurnya suatu daerah adalah tanggung jawab pemimpin.

Pentingnya membina kesadaran diri. Para pemimpin bangsa perlu menyadari kriteria sebagai pemimpin yang lahir karena masyarakat dan bekerja di tengah masyarakat pula. Mereka harus bisa membedakan antara kebenaran yang sesungguhnya dan kebenaran yang dipaksakan antara kepastian yang masuk akal dan kepastian yang dipasti-pastikan. Semuanya membutuhkan pengenalan, kesadaran, dan sikap mawas diri terhadap hasrat gelap dirinya. Semakin orang ingin berkuasa, semakin besar pula ia kehilangan makna dari kekuasaannya. Maka dari itu orang perlu mengenali dan bersikap reflektif terhadap hasrat yang bergejolak keras di dalam dirinya. Kepada para  pimpinan masa depan bangsa bahwa, musuh terbesar pemimpin bangsa adalah diri sendiri dan bukanlah musuh dari luar. Musuh itu yakni  hasrat gelap untuk meraih kekuasaan para pemimpinnya. Dengan demikian ketulusan hati untuk melayani dan menghantar masyarakat pada kesejateraan yang sempurna merupakan sebuah tanggung jawab dari seorang pemimpin.

 

*Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur & Anggota  Aplim Apom Research Group (AARG).