Home Berita Harus Mengakhiri Dari Alir Tangisan Rakyat Untuk Orang Papua Bebas

Harus Mengakhiri Dari Alir Tangisan Rakyat Untuk Orang Papua Bebas

92

PANIAI, JELATANP.com – Siapa yang bisa memenjarakan bahasa dan kata-kata? Tidak satu orang pun berhak memenjarakannya. Biar itu orang yang punya senjata, biar itu orang yang punya kuasa dan biar itu orang yang punya banyak harta. Intelektual yang tidak sebut namanya dilansir di via Facebook pada hari Senin, (02/03/2020) orang Papua harus mengakhiri penindasan terhadap Rakyat Papua.

Ia, menuturkan hal ini karena meliaht Rakyat Papua di Ndugama dan Intan Jaya beberapa bulan sebelum terjadi peperangan antara Tentara Nasional Papua Barat (TPN-PB) dan Tentara Indonesia (TNI-POLRI). Sebab banyak rakyat Papua telah korban karena senjata dan kelaparan apalagi teriakan ‘Merdeka’ yang diawali terlebih dahulu seruan Papua.

“Karenanya itu menurut dia, di Papua, bukan hanya terjadi agresi militer. Tapi di bumi Papua hal lain yang terjadi adalah agresi pembunuhan. Agresi pembunuhan ini mestilah menjadi satu bahan untuk kita rumuskan bersama, mesti menjadi peka terhadap kehancuran masyarakat bersama Penindasan atas nama kuasa dan senjata,” katanya.

Sebelumnya kita kenal selama ini soal Papua hanyalah tarian adat dan paduan suaranya. Tetapi kita selalu menjadikan mata kita sendiri buta terhadap realitas sesungguhnya. Dibalik tarian adat dan paduan suara yang kerap dibanggakan banyak kalangan di Indonesia, terjadi pembantaian diam-diam terhadap orang Papua.

Tidak heran, pekikan perang dengan suara khas burung, selalu menggema dimana-mana pasca rakyat Papua berteriak ‘merdeka’. Rakyat Papua percaya dengan begitu terasa lebih kenal dan ia sedang menabung masa depan Papua menuju satu gerbang yang mereka cita-citakan ialah merdeka.

Selain menurut intelektual itu, “kita harus memija untuk merdeka dalam tulisan melalui teriakan khas yang meniru suara-suara burung, jauh di dalam dadanya, mereka sedang menyucikan dirinya dari roh-roh jahat yang bernama Indonesia dan Amerika Serikat,” pungkasnya.

Namun itu, Ia menuturkan dalam suasana gegap gempita sekaligus penuh duka, budaya bisa menjadi siasat lain dalam menundukkan penguasa terhadap rakyat Papua. Namun adapun banyak media propaganda Indonesia menyebar luaskan banyak informasi yang tidak benar kepada publik.

Mau tidak mau, sepakat ataupun tidak, berbicara Papua yang berhak menentukan secara mandiri masa depan bangsanya, masa depan kehidupannya, masa depan tatanan sosialnya, karena ini semua adalah orang Papua harus untuk bebas. Tidak ada doa yang sempurna selain digenapkan dalam aksi massa.

“Ia berharap, kita harus mengakhiri segala kebejatan di seisi semesta menjadi satu barisan dengan rakyat Papua. Sebab cinta terhadap rakyat Papua hanya akan menjadi basa-basi semata, apabila tidak dibarengi tindakan yang nyata. Berteriak atas nama cinta pada sesama manusia. Berteriak untuk menyulam kembali gagasan merdeka di jalan raya,” jelasnya dikatakan dalam tulisan.

Pewarta : Boas/JNP