Home Artikel/Opini Guru Manusia Vs Guru Mesin

Guru Manusia Vs Guru Mesin

110

Oleh: Okto Kapolulumki Apintamon

 

Pengantar

Salah satu bahasan yang selalu diperbincangkan pada era revolusi industri 4.0 (era digitalisasi) ialah pengambilalihan pekerjaan manusia oleh mesin dan robot. Sehingga setiap pelajar dituntut memiliki sejumlah kompetensi agar dapat bersaing untuk mencari pekerjaan di era digital. Namun, kenyataannya tidak hanya pelajar yang harus meng- upgrade kemampuan, para guru pun harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Menurut Cibubur Munif Chatib, “Media sosial dan berbagai macam aplikasi menjadi sumber informasi yang lebih cepat dan akurat dari pada sosok guru. Sampai-sampai tugas sudah digantikan oleh guru mesin (teknologi). Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh banyak guru  di seluruh dunia, bahkan Indonesia juga Papua” (Munif, Teacher Conference, dalam Kompas.com 27/01/2020). Perubahan zaman tetap akan berjalan terus, tanpa kita sadari. Oleh sebab itu, untuk bersaing dengan perkembangan zaman kita mesti lebih memiliki kemampuan yang matang. Sehingga kita tidak terbawa dengan arusnya perubahan, dalam hal ini para guru tetap dan mampu belajar serta memahami dengan baik adanya perubahan zaman.

Manusia dan Mesin

Menurut Schopenhauer, pemikiran manusia mempunyai fungsi biologis. Manusia merupakan binatang. Binatang yang berpikir mempunyai sejarah evolusioner yang alami. Maka pemikiran manusia bersifat holistik dalam arti bahwa dia merupakan bagian integral kehidupan kodrati manusia. Situasi ini agak lain dengan mesin. Perilaku sebuah mesin tidak mempunyai sejarah evolusioner alami. Perilakunya, tidak mempunyai fungsi biologis karena mesin sendiri bukan entitas biologis. Kekurangan disket (floppy discs) tidak akan membingungkan si mesin atau membuatnya sakit, atau berkurang eksistensinya. Perilaku mesin tidak disumbangkan untuk mempromosikan kelangsungan hidupnya. Komputer tidak hidup dan tidak mempunyai hasrat hidup dan karenanya tidak mungkin dikuasai oleh keinginan untuk hidup. Ada banyak jenis pemikiran manusia, jikalau setiap jenis dianggap sebagai pemikiran juga disendirikan, maka ada kasus, tetapi hanya kasus primer facie (tantangan pertama) yang dapat dipikirkan komputer. Namun, kenyataannya dunia ini apapun benda itu, dibuat oleh manusia. Ia berhak untuk mengaturnya (Teichman Jenny, Etika Sosial, 2003: 59-70).

Proses pembelajaran zaman sekarang harus menjadi penyadaran, dalam hal ini bagi seorang guru, bahwa peran mereka saat ini sebagai guru yang mentransfer pengetahuan sekaligus mendidik pelajar pengganti orang tua di sekolah. Saya pikir suatu saat akan tergantikan oleh guru yang lebih canggih yaitu guru mesin. Media untuk mendapatkan ilmu  pengetahuan saat  ini sudah sangat banyak, tidak tergantung pada guru saja yang bahkan masih banyak keterbatasan. Juga para pelajar sudah dipengaruhi oleh guru mesin, sehingga niat baca buku, menulis dan lain- lain mulai diabaikan. Mereka lebih menggunakan media internet daripada pegang buku lalu membaca. Untuk itu, saat ini guru manusia tetap memegang prinsip guru bahwa tetap setiap saat  belajar dan mengikuti proses perkembangan yang berlangsung ini serta siap untuk mendidik para siswa sebagaimana mestinya.

Saya mengamati, bahwasanya pada saat ini banyak media yang berperan sebagai guru, bahkan ada istilah guru manusia dan guru mesin. Teknologi bisa berperan sebagai guru, ini yang disebut guru mesin. Ilmu pengetahuan sangat banyak bisa dipelajari dengan menggunakan  mesin, sebut saja salah satunya yaitu media internet. Dengan menggunakan internet kita bisa mengetahui sesuatu yang diinginkannya dengan cepat tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bila berpikir secara logis maka guru mesin sebenarnya manusialah yang membuat atau menciptakannya sehingga pentinglah untuk kita mempelajari dan menggunakannya dengan baik.

Guru yang hanya sebatas memposisikan diri sebagai pentransfer ilmu pengetahuan sudah memilki saingan yang canggih, yang mungkin suatu saat nanti akan menggantikan peran guru manusia. Karena dengan perubahan peradaban membuat manusia lebih tertarik dengan sesuatu yang dilihat dan dilakukannya dengan ikut harus tanpa mempelajari kelebihan dan kekurangannya. Sekarang guru mesin memiliki kelebihan yang lebih efektif dibanding guru manusia dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Pertanyaannya bahwa bagaimana agar guru mesin tidak bisa menggantikan guru manusia?

Mesin secanggih apapun tetap memiliki kelebihan dan kelemahannya, karena mesin merupakan buatan manusia. Oleh karena itu, agar manusia tidak tergantung pada mesin, maka manusia harus menguasai mesin. Mesin di sini kita bisa artikan sebagai teknologi. Karena itu guru sangat penting untuk menguasai teknologi. Pada hakekatnya guru manusia tidak bisa  diganti oleh guru mesin. Kita melihat kelemahan guru mesin adalah karena pada mesin tidak memiliki unsur rasa, bahasa dan karakter. Maka itu, peran ini harus diambil oleh guru manusia. Sebab, hanya guru manusialah memiliki unsur rasa, bahasa, dan karakter, walaupun kelemahanya tidak menguasai guru mesin dengan baik.

Kebersamaan Dalam Kesendirian

Dengan adanya perkembangan teknologi, manusia semakin hari semakin memilih hidup dalam kesendirian. Hal ini suatu gejala sosial baru yang manusia sendiri hampir tidak menyadarinya. Guru mesin, kita sebut internet lebih mempengaruhi ‘keberadaan’ manusia, sehingga sangat membuat kita tidak sadar kalau ada orang di samping kiri-kanan kita. Mengapa demikian? Karena dengan bermain internet melalui handphone atau komputer kita lupa akan pekerjaan, tugas serta aktivitas lain yang seharusnya dikerjakan.

Kebersamaan dalam kesendirian, artinya dengan bermain internet kita tidak peduli dengan teman, saudara, sesama bahkan keluarga dekat pun kita tidak komunikasi secara baik. Sehingga orang bersama-sama dengan kita merasa tinggal sendirin, walaupun tinggal bersama. Juga mereka yang lain merasa ada orang tapi tidak terasa karena kita sama-sama ada, tinggal bersama namun masing-masing sibuk dengan internetan. Gelaja ini, membuat manusia gagal fokus dan tidak berada sebagai makhluk sosial. Untuk saling menyapa, bercerita, diskusi dan tanda-tawa sudah mulai berkurang. Karena membuang waktu lebih pada individu dari pada bersama.

Dengan demikian, yang perlu kita manusia lakukan adalah mempelajari dan menguasai guru mesin, internetan serta aplikasi yang membantu dalam proses pembelajaran pada masa kini. Lalu, lebih khusus pada para guru harus tetap mempertahankan identitas sebagai guru dan mesti banyak belajar untuk menguasai media sosial, sehingga mampu bersaing dengan guru mesin. Saya yakin bahwa para guru tidak bisa dikalahkan atau digantikan perannya oleh guru mesin, sebab guru mesin alias internet adalah merupakan buatan manusia. Juga tergantung para guru menyikapai berkembangan zaman ini secara baik dan benar.

*Penulis adalah mahasiswa STFT “Fajar Timur” dan anggota Aplim Apom Research Group (AARG)