Home Artikel/Opini GEREJA PAPUA, KRISIS SEORANG MARTIR KEBENARAN

GEREJA PAPUA, KRISIS SEORANG MARTIR KEBENARAN

223

(Sebuah Tinjauan Refleksi)
Oleh: Novilus K. Ningdana
Peringatan injil masuk di Papua 5 Februari 1855 sampai 2020 merupakan suatu sukacita besar bagi orang Papua. Dalam kegembiraan injil bertumbuh dan berurat berakar dalam budaya dan hidup manusia Papua yang percaya sejak Carl Whilhelm Ottow dan Johan Gottlob Geissler menabur benih firman Tuhan di tanah yang kudus ini. Sejak itu orang Papua dibenarkan oleh iman dan hidup dalam damai sejahtera Allah. Bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah pada kelak dalam pengharapan yang tidak mengecewakan karena kasih Allah telah ada dan menjiwai hidup orang Papua. Demikianlah orang Papua dalam terang injil menghidupi ketiga dasar hidup yakni iman, harapan, dan kasih.
Kehadiran Gereja di Papua dengan satu misi yakni keselamatan. Kehadiran Gereja tidak sebatas mengkristenkan orang Papua dengan membaptis tetapi menaburkan, menjaga, merawat benih yang sudah ditaburkan. Benih itu akan memberi hidup dan pengharapan baru sehingga hidup manusia Papua tidak sekedar homo, tetapi human (manusia yang manusiawi). Dengan demikian dalam terang injil manusia mengembangkan sisi kemanusiaannya agar sederajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Dalam konteks orang Papua pewartaan injil oleh Gereja menjadi harapan baru yang menjiwai perjuangan hidup orang Papua menuju keselamatan. Keselamatan yang diharapkan ialah keselamatan akan keadaan mencapai kedamaian, kasih, kemerdekaa, keadilan dan kebenaran kini dan di sini serta kelak.
Dalam sukacita ini, Gereja sebagai sebuah komunitas orang-orang beriman yang bergerak “menjadi” di dunia terus merefleksikan perjalanan hidup. Perjalanan hidup Gereja di Papua sejak 1855 merupakan sebuah harapan hidup akan situasi Firdaus yakni keadilan, perdamaian, kasih dan persaudaraan. Namun niscaya harapan ini terkadang terombang ambing oleh berbagai macam persoalan yakni kepentingan ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan dan kenyamanan. Dengan demikian harapan orang Papua akan terciptanya Firdaus mini terancam dan tak tercapai.
Kini Gereja Papua hidup dalam suatu situasi yang problematik terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, keadilan, kasih dan damai yang diwartakan di mimbar-mimbar Gereja Papua. Misalnya oleh karena penembakan, penangkapan, terror, intimidasi, pengungsian, penyiksaan, pembungkaman ruang demokrasi, dan segala macam kepentingan yang mengancam nilai-nilai injili. Dengan demikian muncul banyak pertanyaan dan kritik terhadap Gereja bahwa: Apa yang dilakukan oleh gereja? Untuk apa Gereja hadir? Di mana suara Gereja? Apakah Gereja sudah menjawab harapan orang Papua? dengan demikian Gereja Papua kini membutuhkan seorang “Martir Kebenaran” yang berdiri di tengah-tengah krisis kemanusiaan untuk berbicara atas dasar kebenaran injili yang diwartakan.
Siapa Itu Martir
Dalam kamus teologi, kata martir berasal dari bahasa Yunani yakni martyr “saksi” yaitu orang yang rela menderita dan mati karena iman dan cintanya kepada Kristus (Gerald O’Collins dan Edwar G. farugian, 1995;191). Dalam sejarah kristiani Para Rasul dan orang-orang kristiani lainnya memberikan kesaksian tentang kebenaran. Dalam perkembangan selanjutnya martir dipakai untuk menyebut orang yang menderita dan mati demi kesaksian iman pada masa penganiayaan umat Kristen awal. Kematian Yesus Kristus sendiri dilihat sebagai contoh utama kemartiran. Tanah Papua sebagai ladang konflik yang berkepanjangan membutuhkan seseorang yang memiliki iman yang teguh, harapan yang kokoh dan kasih yang melimpah untuk bersaksi tentang nilai-nilai kebenaran yang tercerai berai oleh karena kepantingan individu dan kelompok.
Fakta bahwa Gereja yang pada hakikatnya para pemimpin Gereja dan seluruh umat beriman mengalami dan merasakan dinamika konflik horizontal dan vertikal. Konflik antara orang Papua dan non-Papua dan Negara (TNI/Polri) dan kelompok perjuangan (TPNPB/OPM) yang mempertahankan ideologi “NKRI, harga mati” dan “Papua merdeka, harga mati”. Eksistensi Gereja yang bertumbuh dan bergembang dalam realitas ini mengalami dilema konflik. Bahwa apa yang diwartakan tidak sesuai dengan realitas hidup manusia Papua. Nilai-nilai injili yang diwartakan tidak mengena hati, jiwa dan pikiran umat Allah namun didengar oleh pohon, batu, angin, dan tanah. Sedangkan yang menjadi subjek pewartaan ialah manusia sebagai pribadi Allah agar keselamatan kini dan kelak tercapai. Namun saja konflik pun terjadi di antara sesama manusia yang setiap hari dan minggu mendengarkan firman Allah. Sebenarnya siapa yang salah? Apakah firman/ajaran yang diwartakan? ataukah subjek yang mewartakan maupun mendengarkan firman tersebut? Hal ini sangat urgen untuk direfleksikan oleh Gereja dan umat beriman yang mendiami tanah ini. Bahwa pembunuhan, dendam, kebencian tidak akan menyelesaikan persoalan namun hanya dengan sikap kasih, memaafkan, pengampunan dan perdamaian akan menyelesaikan persoalan.
Untuk mencapai nilai-nilai hakiki injili ini, siapa yang mau dan berani mengorbankan dirinya demi suatu misi kedamaian? Ketakutan, keragu-ragua, masa bodoh, sukuisme, agamaisme, dan egoisme menjadi penghalang bagi pewarta kebenaran. Maka menurut hemat saya bahwa Gereja Papua krisis seorang martir kebenaran yang bersaksi atas dasar nilai-nilai injili demi keselamatan umat Allah di tanah Papua. Seorang martir merupakan umat beriman yang lahir dari tengah-tengah gejolak penderitaan untuk bersaksi dan bersuara agar manusia sebagai citra Allah (imago Dei) dihargai, dilindungi, diselamatkan dan mendapatkan jaminan hidup demi berlangsungnya kehidupan yang aman, nyaman dan damai. Gereja dewasa ini ditantang untuk menjadi Gereja yang menderita dan berlumuran darah bersama umat Allah yang menderita. Para pemimpin gereja keluar dari istana Gereja dan melebur bersama umat. Jubah putih berlumuran darah penderitaan bahkan sampai peluruh menembus dirinya dan gereja. Sikap dan teladan hidup missioner ialah cara terbaik pelayanan Gereja kini. Maka jikalau bukan Gereja dan umat beriman siapa lagi yang menjadi harapan akan keselamatan orang Papua? Apakah pohon, batu atau makhluk hewani? Hanya manusia yang memiliki akal budi dapat menghargai sesama manusia. Mari kita belajar dari seorang pemimpin dan orator terkenal di dunia yakni Martin Luther King Jr. Adalah seorang aktivis hak asasi manusia yang berasal dari Amerika Serikat yang selama hidupnya ia mengupayakan perdamaian dan pertentangan terhadap diskriminasi, rasialisme, penindasan dan peperangan. Hingga akhirnya “pahlawan perdamaian” ini tewas ditembak dalam salah satu aksi damainya di Memphis pada 4 April 1968. Juga bebrapa tokoh pejuang kedamaian lainnya yang telah bersaksi dan menjadi “martir kebenaran” demi perdamaian umat Allah yang menderita.
Akhirnya, dengan momen ini Gereja dan umat Allah terus merefleksikan eksistensi pewartaan injili di tanah Papua demi sebuah keselamatan manusia dan alam ciptaan. Juga semakin menghayati panggilan suci dan berani menjadi “martir kebenaran” di tengah dunia yang penuh dengan gejolak kemanusiaan agar tercipta kasih dan damai di antara sesama manusia terlebih bagi umat Allah di tanah Papua.

  • Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT)
    “Fajar Timur” Abepura-Papua