Home Artikel/Opini Generasi Muda Pegunungan Bintang Perlu Mengenal Budaya Sebagai Identitas

Generasi Muda Pegunungan Bintang Perlu Mengenal Budaya Sebagai Identitas

101

Oleh: Yohanes Bitdana S.Sos*

Pengantar

Kita tahu bahwa budaya merupakan hasil kreatifitas manusia dari tingkah laku manusia, tata kelakuan dan norma-norma serta nilai-nilai yang dihidupkan oleh manusia yang diwariskan oleh leluhur sebagai pedoman hidup. Sebagai hasil kreatifitas manusia, kebudayaan juga ditandai dengan ciri dinamistis dalam situasi lingkungan dan zaman. Berangkat dari  hal tersebut di atas,  kita mengenal dua istilah yang menggambarkan judul tulisan ini yakni istilah Asimilasi dan Akulturasi yang memberi kita gambaran akan akibat pertemuan atau perpaduan budayaAsing dan budaya Lokal. Dimana Akulturasi berarti percampuran dua budaya atau lebih kebudayaan. Sementara Asimilasi merupakan adanya proses peleburan kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Dalam hal ini kita mengerti adanya peleburan dan percampuran budaya lokal Papua secara umum dan budaya Orang Pegunungan Bintang khususnya. Dalam interaksi dengan budaya-budaya asing, ada indikasi memperlihatkan bahwa beberapa budaya asli Orang Pegunungan Bintang (Aplim Apom Culture) mengalami pergeseran makna, bahkan dikhawatirkan punah. Kekhawatiran budaya ini terlihat dari fenomena kehidupan dewasa ini dalam realita hidup orang mudah Pegunungan Bintang sebagai generasi penerus budaya Aplim Apom Cultures dalam mempertahankan identitasnya.

Realitas Dan Tantangan Menjaga Eksistensi Budaya Orang Aplim Apom

Dengan bercermin pada realitas yang ada di Pegunungan Bintang, penulis akan mencoba memaparkan  beberapa hal terkait budaya asli Orang Pegunungan Bintang yang semakin terkikis oleh arus zaman modernisasi. Pertanyaanya ialah, apakah nilai-nilai hidup yang terdapat dalam budaya Orang Pegunungan Bintang akan terus dipertahankan oleh generasi sekarang? Apakah ada kriteria tertentu yang menandakan  orang Pegunungan Bintang yang berbudaya? siapakah yang jadi penanggung jawab dalam mengajar dan mendidik orang muda di sela-sela kuatnya arus budaya asing? Asimilasi dan Akulturasi budaya secara umumnya terjadi dalam semua aspek kehidupan, seperti Agama, Pendidikan, Pemerintah, Sosial, Politik dan Ekonomi sebagai aspek vital dalam kehidupan orang Pebunungan Bintang saat ini. Dilain sisi Akulturasi dan Asimiliasi mempunyai dampak tersendiri bagi peradaban  hidup manusia yang berbudaya, baik yang bersifat positif (membangun) maupun negative  (menghancurkan). Dari kedua poin di atas, penulis menitik beratkan pada sisi negative sebagai bagian yang memberikan peringatan dalam usaha mempertahankan Budaya asli sebagai bentuk keprihatinan pada  wilayah adat Lapago khususnya di Pegunungan Bintang yang budaya lokalnya semakin terkikis.

Pegunungan Bintang merupakan nama yang diberikan ketika dimekarkan dari pemerintah atas usaha dan kerja keras pendiri Kabupaten. Sementara nama Pegunungan Bintang melingkup  seluruh suku-suku yang mendiami wilayah tanah leluhur Aplim Apom. Dengan berbagai macam suku yang terdapat di tanah Aplim Apom tentu memiliki nilai hidup tersendiri yang memberi arah sekaligus pegangan hidup dalam tata aturan hidup bersama. Norma-norma hidup ini dianggap bermartabat karena mengandung sistem sekaligus menjiwai setiap pribadi dalam kehidupanya. Hal-hal ini terlihat dari cara hidup, membangun komunikasi antar sesama, memegang teguh nasihat kebijaksanaan hidup dari orang tua, menampilkan budaya bernyanyi (Lagu adat), merajut noken bagi perempuan, mengukir busur, anak panah (ebon, ara, yapet), mempertahankan bahasa daerah dalam hubungan komunikasi dan salaman dengan simbol jabatan (dukal) dan beragam nilai hidup lainnya.

Dari semua nilai luhur budaya suku Ngalum, Ketengban, Murop, Kambon, Kimki dan Lepki (Rani) ini terlihat sangat  minim dari segi praktek hidup generasi penerus saat ini. Pada hal diharapkan agar orang Pegunungan Bintang bisa terus memupuk budaya di tingkat generasi muda sebagai pondasi menghadapi kuatnya arus dan pengaruh budaya luar  yang sangat mengikis budaya lokal. Karena budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuh kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya juga memberikan identitas tentang darimana kita berasal. Anak-anak generasi muda Pegunungan Bintang perlu dikenalkan budaya-budaya lokal, sehingga tidak pudar identitasnya, identitas budayanya dan identitas sosialnya sebagai orang yang berbudaya. Hal ini sangat penting karena kondisi real saat ini yang terjadi di kalangan muda generasi Pegunungan Bintang terpengaruh oleh budaya luar sehingga sebagian tidak mengenal budaya asli sebaga identitas dan jati dirinya. Malah yang terjadi pada generasi sekarang ialah dipengaruhi oleh budaya modern, seperti patola, tiktok, disco dan yosim. Selain itu, dalam hal perkawinan pun (pernikahan) terancam karena terjadi perkawinan antar sesama marga/klen akibat kurangnya pengetahuan tentang adat-istiadat. Hal tersebut terjadi karena dominasi budaya luar. Sekarang ini budaya baru sudah dianggap budanya orang Pegunungan Bintang  bahkan terus dicari dan dipraktikan dikalangan muda. Penulis menyarankan agar kaum muda-mudi kembali mempelajari sil-sila keturunan dari orang tua. Apabila di era sekarang atau era dimana globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi kaum muda Pegunungan Bintang. Norma dan etika menjadi kekuatan menghadapi kemajuan zaman. “Jangan sampai perkembangan globalisasi yang cepat mencabut nilai-nilai luhur budaya lokal. Sehingga diharapkan untuk tetap melestarikan budaya sebagai  tanggung jawab bersama dimana pun kita berada.

Diera Globalisasi, kita sedang menghadapi situasi yang sangat rumit dalam menghadapi pengaruh budaya asing. Saat ini, melalui media sosial dan media konvensional lainnya tidak bisa membendung budaya asing yang kian meningkat secara signifikan, namun itu bukanlah sebuah alasan untuk meninggalkan budaya lokal, tetapi sebagi orang yang sadar akan pentingnya budaya harus bisa mempertahankan nilai adat-istiadat untuk jadikan pegangan hidup. Sebagai makhluk yang berakal budi, tentunya kita bisa  memilih mana hal yang dan mana hal yang buruk  demi perkembangan diri dan daerah kita. Salah satu budaya orang asing baik yang perlu diadopsi dan diusahakan dalam generasi muda ialah budaya membaca, budaya menulis. Kedua budaya ini sangat membantu perkembangan kognitif seseorang untuk terus membentuk pribadi yang berpengetahuan luas terlebih khusus budaya yang sedang di kaji oleh penulis. Menyatukan ide dan mencari kebijaksanaan hidup dari orang lain untuk memperkaya pribadi adalah tuntutan yang baik, bernilai dan bermartabat. Nilai-nilai tersebut tidak saja membuat pribadi menjadi dewasa namun mengangkat harkat dan nama baik daerah, keluarga dan tanah air Pegunungan Bintang dimata orang lain. Dengan demikian, orang muda Pegunungan Bintang bisa menjadi pelopor untuk mencari, mendokumentasi dan mewariskan nilai budaya melalui literasi agar penerus yang akan datang pun bisa mempelajari dan menghidupkanya walau dominasi budaya modern selalu menjadi ancaman serius

Penutup

Sebagai penutup dalam tulisan ini, penulis merasa penting untuk menerapkan budaya lokal disetiap bidang hidup melalui internalisasi budaya lokal melalui pendidikan dan agama. Hal ini sangat mengharapkan dorongan dan bantuan pemerintah dalam bentuk dukungan berupa moril dan material, sarana-prasana melalui program pemerintah. Penulis menyadari kesulitan dalam merealisasikan namun usaha dan kerja keras kita dari semua bidang pemerintah menjadi tugas dan tanggungjawab bersama. Terutama mendukung dan mrealisasikan pendidikan adat dalam bidang pendidikan nasional, ekonomi lokal, politik lokal dalam sistim politik Ap Iwol, kesehatan dan berbagai bidang hidup lainnya. Terutama agama berperan menyadarkan setiap keluarga atas dasar nilai kebijaksanaan Kristus dengan budaya dan nilai hidup Ap Iwol sebagai sumber hidup. Semua ini demi mempertahankan jati diri dalam dunia modern ini. Dengan kata lain bahwa kebudayaan yang dimiliki harus dipertahkan menjadi kultur permanen sehingga tidak dipengaruhi oleh budaya asing yang masuk. Untuk mempertahankannya, peran pemrintah daerah Kabupaten Pegunungan Bintang mengambil kebijakan dan mendorong Dinas Pendidikan untuk membuat kurikulum dan dimuat dalam mata pelajaran baik itu di tingkat  TK, SD, SMP, dan SMA dan SMK di daerah Pegunungan Bintang. Sehingga generasi muda Pegunungan Bintang dapat mengenal dan  memahami budaya sebagai identitas dan jatidiri orang Ngalum, Kupel, Murob, Kambom dan Suku Ran (Lepki) di seluruh Wilayah leluhur Aplim Apom. Mengingat Budaya sebagai identitas suku dan bangsa yang semakin ditelan dominasi budaya luar. Mari kita bersama –sama mesrakan budaya kita sebagai pedoman hidup sebagai identitas kita. Ingatlah bahwa” Tanpa mengenal budaya, hidup bagaikan tanpa identitas”.

Penulis adalah Alumni Antropologi Budaya di Universitas Cenderawasih, Peneliti dan Pemerhati Budaya Lokal di Pegunungan Bintang dan Anggota Aplim Apom Research Group(AARG)