Home Lingkungan Eksploitasi Hutan Sagu Telah Deforestasi Di Papua

Eksploitasi Hutan Sagu Telah Deforestasi Di Papua

102

Oleh: Efendi Minai*
Eksploitasi hutan dalam sejarahnya sudah terjadi masa kerajaan tradisional, hutan merupakan paru-paru dunia menjadi salah satu unsur krusial demi kelangsungan hidup bumi, bayangkan apa bila tidak ada hutan, bumi kita ini mungkin akan terasa panas yang bisa membuat kita kekurangan oksigen untuk bernafas, https://m.kumparan.com. Selain itu, Manusia juga mungkin juga krisis ekonomi. Oleh sebab itu, hutan bukan eksploitasi tetapi jaga hutan sebagai tempat kelangsungan hidup.
Indonesia kaya akan keanekargaman hayati, salah satunya kekayaan hutan. Hutan merupakan tempat menyimpan berbagai jenis ekosistem yang berkontribusi besar bagi makhluk hidup terutama ( flora dan fauna ) di indonesia, hutan yang dimaksud adalah potensi yang dimiliki oleh orang Indonesia ( negara Indonesia). Selain itu, dalam hutan tersebut mendapatkan potensi hutan yang bisa memenuhi kebutuhan pokok (pangan) salah satunya pohon sagu yang dikelola oleh masyarakat Indonesia timur (maluku dan papua).
Namun sayangnya, negara berkembang “negara Indonesia” yang potensi hutan kaya dan bernilai seperti sagu sudah dan sedang “eksploitasi”, demi memajukan pembangun, membuka perusahaan-perusahaan dan penebangan pohon, untuk kepentingan berbasis ekonomi. Oleh sebab itu, potensi hutan yang bernilai seperti sagu sangat membutuhkan dalam situasi covid 19 yang ramai dibicarakan di dunia dan Indonesia khususnya papua.
Korban covid 19 kian hari meloncat mencapai kematian hingga ratusan bahkan ribuan orang didunia, jika berasumsi bisa jadi krisis ekonomi. Sehingga orang asli papua (OAP) kembali melestarikan potensi hutan seperti pohon sagu, OAP mampu mengelola untuk memenuhhi kebutuhan keluarga. Demikian juga mengelola pohon sagu adalah mendukung kekurangan gisi buruk bagi kelurganya sendiri.
Potensi pohon sagu merupakan makan pokok bagi masyarakat di Indonesia timur (maluku dan papua ) terutama masyarakat yang tinggal di pesisir pante. Pohon sagu bertumbuh pada daerah yang berlumpur, akar napas tidak terendam, kaya minelar, kaya organik, air tanah berwarna cokelat dan bereaksi agak masam. Selain itu, pertumbuhan tanaman sagu juga dipengaruh oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar terutama fosfat, kalium, dan magnesium. Untuk itu, sebagai petani sagu berperan penting untuk merawat tanaman sagu sesuai dengan profesinya. Oleh sebab itu, untuk menjaga dan melestarikan sagu adalah kebutuhan kita bersama tidak hanya petani atau pemilik dusun sagu.
Eksploitasi Hutan
Data pemerintah RI menyebutkan, pada tahun 2005-2009 luas hutan papua berkisar 42,22 juta hektar. Tapi berselang tiga tahun kemudian (2011) lalu mengalami degradasi hingga tersisa 30,07 juta hektar dan rata-rata deforestasi dipapua bekisar 143.680 hektar pertahun. sedangkan laju deforestasi di Provinsi Papua Barat per-tahun rata-rata 293 ribu hektar atau 25 persen, http:// sawitwatch,or,id/ 2013/04/07/. Oleh sebab itu, masyarakat papua yang rata-rata hidup tergantung hasil hutan (pangan lokal dan berupan hewan liar seperti burung, rusa, babi hutan, kus-kus) maka pemerintah dan masyarakat papua sama-sama berpikir untuk melihat hutan yang bereksploitasi secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Dengan kehadiran proyek terjadi deforestasi hingga memblok-blok (fragmentasi) hutan papua. Maka dari itu, kelangsungan orang papua yang hidupnya tergatung hasil hutan disayangkan, keberadaan hutan tropis dipapua terus menyusut sering proses degradasi dan laju kerusakan hutan (deforestasi) terjadi waktu ke waktu.
Dialihfungsikan Hutan Sagu
Hutan sagu fungsikan dengan budaya adat setempat agar budaya proses pembuatan sagu tidak tinggalkan pada zaman ini, tetapi budaya prosesnya bisa mewarisi regenerasi, karena itulah pengetahuan tradisional yang di miliki oleh masyarakat adat papua. Selain itu, Masyarakat papua terutama masyarakat pesisir memaknai pohon sagu sebagai “sumber hidup” yang menguatkan tubuh dan kontribusi nutrisi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, pohon sagu fungsikan sebagai bahan pangan (makanan) diolah menjadi tepung atau papeda.
Realita kehidupan masyarakat papua yang dianggap pohon sagu tidak bernilai adalah hutan sagu di fungsikan sebagai tanaman kelapa sawit hingga membuka lahan kelapa sawit ratusan hektar, Sebetulrnya “hutan sagu tidak bisa diganti dengan sawit karena kehadiran kelapa sawit banyak menghabisi hutan-hutan sagu papua dan secara budaya, sagu tidak berkaitan dengan budaya dipapua”.https://Suarapapua.com/2018/10/10. Oleh sebab itu, pohon sagu hargai sebagai “mama” yang memberikan orang papua gisi yang baik untuk mempertahankan nafas hidupnya.
Degradasi dan Deforestasi Hutan Sagu Di Papua
Hutan sagu dipapua memblok-blokan seperti yang di jJayapura (Sentani), luas sagu di Distrik Sentani tercatat 1.964 hektar. Sentani Timur seluas 473 hektar, Waibu sekitar 138 hektar, dan Sentani Barat sekitar 277 hektar. Sebagian besar lahan sagu tersebut merupakan hutan produksi sehingga rawan beralih fungsi menjadi lahan peruntukan lain. https://Jubi.co.id.
Karena potensi hutan sagu merupakan “sumber hidup untuk memenuhi kebutuhan makanan dalam keluarga. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat berkomitmen sesuai dengan tertuang dalam peraturan daerah Nomor 3 tahun 2000 tentang perlindungan sagu dikota jayapura. Agar kedepan saling berkontribusi untuk merawat, menjaga dan melestarikannya.
Selain kota jayapura, hutan sagu telah degradasi (perusakan) adanya kehadiran perusahaan-perusahaan seperti sorong selatan di papua barat, masyarakat kamoro di timika, dan di asmat yang memiliki hutan sagu ratusan hektar namun, telah eksploitasi adanya penebangan pohon meluas dan membuka lahan pertanian yang meluas. Selain itu, ditempat lahan sagu membuka lahan kelapa sawit dan pembangunan pemukiman melebar kemungkinan tanaman sagu menyudutkan hanya tinggal sepangkal.
Akhir-akhir ini, ramai membicarakan krisis ekonomi selama wabah virus corona (covid 19), dan Rektur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan kami perintahkan kepada jajaran membeli sagu sebagai bahan pangan cadangan untuk mengantisipasi beras habis, https://Jubi.co.id. Dengan itu, menjadi pertanyaannya apakah hutan sagu masih tersedia untuk memproduksi? jawabannya: sudah degradasi, tapi kemungkinan masih ada sepangkal yang menyudkan diatara ratusan hektar yang sudah eksploitasi.
Hutan adalah tempat menyimpan segala sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan manusia, seperti sagu, buah merah, ubi-ubian, pisang, kelapa hutan, dan hewan atau binatang-bitang kecil. Sehinga manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki akal budi menyadari dan merestarikan potensi hutan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Karena situasi sperti covid 19, manusia bisa hidup tegantung hasil potensi hutan. Dan OAP hargai hutan sebagi tempat sumber pangan, sandang, dan papan. Stop eksploitasi hutan. Merestarikan Hutan Sagu!
Penulis adalah Mahasiswa UNCEN Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Biologi.