Home Artikel/Opini Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Gempuran Istilah Asing Terkait Covid-19

Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Gempuran Istilah Asing Terkait Covid-19

544

Oleh: Rian Tap***

 

Bahasa merupakan alat komunikasi yang memiliki peran sentral bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat berinteraksi satu sama lain serta mengalami krisis relasi sosial. Bahasa juga sebagai penyampai ekspresi jiwa yang baik antara komunikator. Dalam pengertian umum bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Gorys Keraf, 2004:1). Ketika masyarakat menginginkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, maka orang tersebut akan menggunakan suatu bahasa yang sudah biasa digunakannya untuk menyampaikan sesuatu informasi. Pada umumnya bahasa- bahasa tersebut dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain, hal ini dapat dikarenakan adanya perbedaan kultur, lingkungan dan kebiasaan yang mereka miliki. Bahasa sebagai media komunikasi sangat penting dalam memperlancar komunikasi jarak dekat maupun jauh. Bisa dikatakan bahasa mempunyai relasi intim dengan dunia nyata (Gorys Keraf, 2006:31). Di Indonesia sendiri memiliki beragam bahasa daerah yang berbeda di setiap sukunya. Namun, bahasa yang resmi yang dipakai adalah Bahasa Indonesia.

Sejarah terbentuknya bahasa Indonesia sendiri memiliki perjalanan yang lebih panjang dari pada sejarah kemerdekaan bangsa ini. Banyak sekali faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi terbentuknya bahasa indonesia. Bahasa dianggap sebagai warisan budaya mengingat perjuangan nasionalisme sebagai pemersatu tanah air. Lalu apakah Bahasa Indonesia saat ini telah digunakan secara baik dan benar dalam berkomunikasi?. Tentunya dalam berkomunikasi banyak masyarakat Indonesia juga menggunakan bahasa asing dalam kehidupannya, apakah hal ini akan berdampak buruk bagi keberlangsungan Bahasa Indonesia? Sampai saat ini, bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa dan Negara memang berjalan dengan baik, namun kekhawatiran terhadap mulai terancamnya peran dan kedudukan bahasa Indonesia dan lunturnya sikap positif terhadap bahasa Indonesia akhir-akhir ini perlu mendapat perhatian dan penanganan yang cukup serius (Wahyu wibowo, 2001:7).

Saat ini bahasa indonesia berada dalam problematika yang tidak kecil. Era globalisasi membuat masyarakat Indonesia mampu menguasai bahasa asing selain bahasa Indonesia. Walaupun komunikasi dan interaksi terjadi dalam bangsa Indonesia sendiri, namun bahasa asing kerap menjadi salah satu keharusan yang harus dimengerti oleh masyarakat. Lalu, apakah mempunyai dampak terhadap eksistensi bahasa Indonesia?. Salah satu realitas yang tidak dapat disangkal yakni kehadiran wabah virus corona (covid-19) membawa sekian banyak istilah-istilah asing.

Merebaknya penggunaan istilah-istilah asing selama pandemi Covid-19, membuat masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan istilah asing dari pada istilah Indonesia. Sikap ini serentak menunjukan sikap tak acuh terhadap bahasa Indonesia. Sadar atau tidak sebenarnaya praktek berbahasa di Indonesia sementara didomiasi dan dimonopoli oleh penggunaan bahasa asing yang kemudian mensubordinasikan peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai identitas kita.

Keberadaan bahasa Indonesia di belantara istilah asing terkait covid-19

Secara perspektif historis, bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu yang selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan itu mewujud dalam penambahan kata baru, penyerapan bahasa asing, hingga penetapan struktur penulisan atau ejaan yang baku. Ejaan bahasa Indonesia mengalami perkembangan dari masa ke masa, mulai dari ejaan Van Ophuijsen, Ejaan Soewandi, Ejaan Pembaruan, Ejaan Melindo, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hingga Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) (Yohanes Orong, 2017:25-27). Implikasi praktis perubahan ini ialah revisi berkala Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kosakata baru turut memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia, tetapi tidak sampai merusak segi struktur bahasa (Lamuddin Finoza, 2002: 3).

Bercermin pada latar belakang historis di atas maka kedudukan bahasa Indonesia penting untuk dijaga dan dilestarikan. Bahasa Indonesia menjadi sebuah kebutuhan penting dalam kehidupan berbangsa karena fungsinya sebagai sarana komunikasi. Ada Sekian banyak proses perubahan dan pembentukan dalam bahasa Indonesia menunjukkan sifatnya yang dinamis. Perubahan dan perkembangan bahasa dapat terjadi pada tataran fonologi, morfologis, sintaksis, dan semantik (Yohanes Orong, 2017:9). Bahasa juga tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan arus zaman. Sebagaimana kehidupan makhluk hidup, bahasa tumbuh dan berkembang dalam dinamika. Bahasa menjadi hidup ketika masyarakat mempraktikkannya, dan mati jika tidak ada yang mempraktikkannya. Praktisnya, pengguna bahasa menentukan eksisnya sebuah kosakata. Namun Polemik berbahasa dalam praksis dewasa ini, masyarakat Indonesia merujuk pada sikap yang ambivalen: ada niat untuk memodernkan bahasa Indonesia, tetapi ada pula kecenderungan untuk lebih mengapresiasi bahasa asing.

Seiring dengan perkembangan zaman yang berimplikasi pada kemajuan teknologi dan informasi, kedudukan bahasa Indonesia mengalami pergeseran. Selain itu, situasi global juga turut berpengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Seperti yang terjadi sekarang ini dunia internasional sedang dilanda oleh wabah virus corona. Mengglobalnya pandemi Covid-19, melahirkan istilah-istilah asing yang sering dipakai oleh tenaga medic. umumnya istilah asing yang muncul terbagi dalam dua kategori, yaitu: istilah asing yang sudah memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia dan istilah asing bentukan baru yang belum memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia. Kata atau istilah asing khususnya kata selama masa pandemi Covid-19 berintegrasi dengan bahasa Indonesia melalui cara penyerapan, penerjemahan, ataupun kombinasi keduanya.

Ada banyak kosakata baru yang muncul yang turut berimplikasi pada kebingungan masyarakat. Kosakata baru tersebut berupa akronim dan istilah-istilah asing yang masif digunakan oleh kalangan tertentu tetapi cukup asing bagi masyarakat. Masyarakat akan mengalami kebingungan dalam menangkap informasi yang berhubungan dengan Covid-19 karena pemerintah dalam hal ini, gugus tugas penanganan Covid-19 maupun orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam menyampaikan informasi terkait wabah ini cenderung

menggunakan istilah-istilah yang terdengar asing di telinga masyarakat masyarakat. Seperti anus, urine, specimen (spesimen), pandemic (pandemi), local transmission (transmisi lokal), imported case (kasus impor), quarantine (karantina), social dinstancing (pembatasan sosial), cluster (klaster), Waba (Arab) diserap menjadi wabah. Kata dan istilah hasil penerjemahan ialah lockdown (penutupan, penguncian, dan pembatasan), work from home (bekerja dari rumah), droplet (butiran ludah), suspect (terduga). rapid test (tes cepat), flattening the curve (pelandaian kurva), herd immunity (imunitas kelompok), hand sanitizer (penyanitasi tangan), thermal scanner (alat pemindai suhu), under investigation (dalam proses investigasi) (Kompas, 11 April 2020).

Pentingnya Sosialisasi Istilah Asing Terkait Covid-19 di masyarakat

Penetapkan aturan baku penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, selalu beriringan dengan praktik pengingkaran dari masyarakat. Dalam keseharian, kaum muda dan media masa yang selalu menyelipkan berita berbahasa Indonesia gaul dicap alay, orang yang menyelipkan bahasa asing dikatai kebarat-baratan, atau orang yang menyelipkan bahasa daerah dituduh primordialisme. Namun, banyak juga pihak yang positif memandang rangkaian praktik seperti ini (Sulistiono, dkk, 2006: 180). Gempuran istilah asing di tengah pandemi Covid-19 tentunya cukup relevan dan efektif membantu untuk mempelajari cara penanganan pandemi ini dari negara asing. Akan tetapi, absennya padanan kata dari istilah asing itu dalam pemberitaan dapat menimbulkan polemik dalam masyarakat.

Hemat saya, kemunculan istilah asing di tengah pandemik covid-19 membuat suatu polemik di tengah masyarakat Indonesia. Gempuran istilah asing dan bahasa gaul zaman millennial membuat nasib bahasa Indonesia kian diperhitungkan. Bahwasanya praktik berbahasa dewasa ini terbak dalam gempuran istilah asing. Kiblat bahasa dipertanyakan karena kedinamisan sifat dan perkembangannya ditentukan oleh penggunanya sendiri. Bahasa Indonesia tetap menampilkan kekokohanya dalam perkembangan zaman, jika masyarakat Indonesia tetap konsisten mempraktikannya secara baik dan benar.

Serta pemerintah harus memberikan sosialisasi kepada masayarakat berkaitan dengan istilah asing terkait Covid-19. Hingga masyarakat mampu memahami serta mengidahkan instruksi dari pemerintah. Serta kiblat penyerapan harus gencar dilakukan dan KBBI harus direvisi lagi. Dengan demikian masyarakat Indonesia dapat terhidar dari kekacauan berbahasa, serta dapat menjaga stabilitas bahasa asli Indonesia. Media juga sebagai sarana pendidikan masyarakat harus lebih gencar memasarkan istilah asing hasil serapan serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

*Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere.

Editor: Erick Bitdana