Home Lapago Ekonomi Mama-Mama Papua di Pasar Oksibil Sangat Memprihatinkan

Ekonomi Mama-Mama Papua di Pasar Oksibil Sangat Memprihatinkan

81

Oleh: Peipkon Ningmabin

 

Secara sempit ekonomi diartikan sebagai peraturan mengenai tukar menukar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mengapa kebutuhan rumah tangga harus diatur? Karena kebutuhan manusia tak terbatas. Di lain pihak, sumber pemuas kebutuhan manusia itu terbatas. Ekonomi berperan sebagai lalu lintas atas dua hal yang bertolak belakang tersebut. Dengan demikian ekonomi sangat erat kaitan dengan kelangkaan sumber daya alam atau keterbatasan sumber daya. Oleh karenanya, setiap manusia berusaha untuk memanfaatkan sumber daya yang langkah tersebut secara efektif dan efisien, secara adil serta tidak boros guna memenuhi kebutuhannya yang tak terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas, seseorang sangat membutuhkan orang lain untuk saling tukar menukar untuk memenuhi kebutuhan yang tak terbatas itu. Karena adanya interaksi sesama manusia ini, ekonomi kadang-kadang dipahami sebagai ilmu sosial. Kata sosial dalam konteks ini tidak dipahami sebagai suka membantu orang lain. Melainkan, transaksi yang saling menguntungkan antara satu pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi ekonomi tersebut.

Ekonomi dipahami sebagai ilmu sosial yang di dalamnya terdapat aktivitas-ativitas ekonomi yang melibatkan interaksi antara satu individu dengan individu yang lain. Pasar merupakan salah satu tempat pertemuan antara para pihak yang berkepentingan melakukan transaksi ekonomi. Tulisan berusaha menjelaskan nasib dan perjuangan ekonomi mama-mama Papua di Pasar Oksibil. Ekonomi mama-mama di pasar Oksibil yang sangat memprihatinkan. Mama-mama Papua ini semestinya diberikan tempat yang layak di pasar dan harus menjadi prioritas. Mama-mama ini sedang membiasakan diri untuk produktif memenuhi kebutuhan yang tak terbatas dengan segala kelangkaan sumber daya. Mama-mama ini meskipun tidak dibekali dengan keterampilan yang mumpuni tetapi mereka memiliki niat yang luar biasa. Mereka berani bersanding dengan mama dari luar Papua yang boleh dikatakan dari segala aspek telah siap.

Mama-mama Papua di pasar oksibil disimbolkan sebagai tanah yang memberikan kehidupan bagi keluarganya maupun banyak orang terutama generasi muda Pegunungan Bintang. Oleh karenanya, mama di pasar Oksibil harus benar-benar dibangun aspek ekonomi supaya memberikan kehidupan. Mama itu ibarat tanah pusaka, mama itu ibarat noken, jikalau mama itu sehat, mama itu maju maka majulah sebuah daerah. Di seluruh dunia mama itu tiang utama dalam ekonomi.

Ketidakberdayaan Ekonomi mama-mama di Oksibil masih yang sangat memprihatinkan harus menjadi perhatian semua stakeholder pembanguan di Kabupaten Pegunungan Bintang. Pengelolaan pasar di Oksibil harus diatur sehingga semua lapisan masyarakat dapat secara adil. Pemerintah daerah harus neteral membagian porsi di dalam pasar sehingga tidak terjadi ketimpangan yang mencolok. Dinas terkait, seperti dinas pasar perlu memperhatikan semua golongan masyarakat sehingga tidak menimbulkan kecemburuan dan menciptakan ketimpangan yang tinggi antara kelebihan modal dan yang kekurangan modal, penduduk lokal (mama Papua) dengan penduduk non lokal.

Sangat sayang sekali ekonomi mama-mama di atasnya sendiri menderita, tidak ada rasa kasih sayang, tidak ada keberpihakan, tidak ada kepedulian terhadap mereka mama-mama Papua ini. Realita ini masih berjalan sampai saat ini. Ekonomi mama-mama yang memperihatinkan ini membuat ekonomi mama-mama terpuruk. Penderitaan mama-mama di atas tanah leluhurnya sendiri memberikan luka di hati yang mendalam bagi mama-mama dalam kehidupan memperjuangan kebutuhan ekonomi diri dan keluarganya.

Pemerintah dan lembaga-lembaga relevan lainnya mestinya memberikan perhatian terhadap ekonomi mama-mama ini. Minimal memfasilitasi mereka untuk memiliki tempat jual yang layak di pasar Oksibil. Salah satu contoh nyata yakni di pasar Mabilabol pusat kota kabupaten Pegunungan Bintang mama-mama diabaikan. Mereka terpinggirkan bukan karena kekurangan skill atau modal tetapi dalam pasar hampir 70 % dipenuhi mama-mama pendatang. Komoditas yang mama perdagangkan antara lain ubi, sayur topinong (labu siam), sayur bonengnong (daun ubi) dan sayuran lainnya. Ketidakadilan pengelolaan pasar seperti ini tidak hanya menimbulkan luka hati mama tetapi juga secara pelan-pelan mematikan ekonomi mama-mama Papua ini sehingga hidup dalam penderitaan terus belanjut. Entah kapan berakhirnya. Kelemahan utama yang dimiliki mama-mama Papua ini rata-rata tingkat pendidikannya rendah, dan literasi dan inklusi keuangan rendah. Namun kelemahan ini tidak menjadi patokan untuk mengabaikan mereka. Karena mereka memiliki semangat yang tinggi dan keputusan pribadi untuk berdagang dalam rangka memenuhi kebutuhannya serta menghidupi keluarga.

Dengan melihat keterbatasan dan kurang berkembangnya ekonomi mama-mama yang sampai saat ini masih belum terpenuhi dari pemerintah. Maka, yang perlu dilakukan Pemerintah Daerah pada masa yang akan mendatang agar secepatnya membuat peraturan yang dapat memihak kepada kegiatan ekonomi mama-mama di Oksibil sehingga dengan adanya peraturan tersebut bisa mengakomodir dalam hal (1) kepemilikkan tempat-tempat jualan yang semestinya sehingga dapat memperdagangkan komoditas atau barang dagangan mereka dengan keadaan yang aman,(2) menghidupkan ekonomi mama-mama. Dengan memperbaiki kehidupan ekonomi mama-mama Papua dapat menyelamatkan kehidupan.

 Penulis adalah Mahasiswi Pegunungan Bintang Kuliah di Jawa Timur