Home Artikel/Opini Dusun sebagai Mama dan Rahim

Dusun sebagai Mama dan Rahim

80

Oleh: Florentinus Tebai)*

Akhir-akhir ini, isu mengenai Covid-19 tidak asing di telinga kita di hampir seluruh dunia pada umumnya dan Indonesia-di Papua. Covid-19 adalah sebuah virus yang bisa membahayakan hidup, sehingga membuat kita panik dan takut. Bahkan dengan virus ini telah menekan psikologi kita dan melumpuhkan beragam aktifitas kita dari seperti biasanya. Kita semua tinggal di dalam rumah (Back to Home), dari beragam aktifitas. Diantaranya seperti, aktifitas perkuliahan di kampus sebagai mahasiswa dan dosen, kegiatan belajar dan mengajar sebagai pelajar dan guru, aktifitas perkantoran sebagai PNS. Singkatnya bahwa, kita semua tidak menjalankan seluruh aktifitas kita sebagaimana biasanya.

Walaupun demikian, apa sisi positif yang bisa kita pelajari dari Covid-19, ialah bahwa, bagi saya adalah pentingnya kembali berkumpul di rumah untuk melihat kembali seluruh perjalanan hidup kita. Terutama, sikap dan kelakuan kita terhadap dusun yang merupakan mama dan rahim. Entah dengan sadar ataupun dengan tidak sadar kita telah menganggap remeh terhadap pekarangan rumah dan dusun sebagai rumah, mama, dan rahim kehidupan kita. Sikap mental yang demikian, kita telah menunjukkannya melalui menjual tanah yang merupakan harta benda dan warisan leluhur Orang Asli Papua (Selanjutnya baca OAP) sejak dahulu hingga kini di atas tanah Papua. Diantaranya seperti di Sentani. “DAS: Jual Tanah = Jual Harga Diri”. Ondofolo melepaskan hak kesulungan untuk mengatur kehidupan rakyatnya ke tangan orang lain.” (Jubi, Selasa, 18 November 2019).

Pertanyaannya, Jika sikap mental demikian sudah tertanam kuat dalam seluruh dinamika kehidupa OAP, maka dimanakah harga diri OAP di atas tananhnya? Karena, persoalan mengenai tanah adat ada kaitannya dengan harga diri sebagi OAP yang sejati di tanah Papua. Ingat, kita dihargai dan dihormati oleh orang lain, karena ada tanah adat atau lahan yang kita miliki. Oleh karena itu, tidak salah, bila OAP tidak dihargai dan dihormati oleh OAP, ketika ia tidak memiliki sebidang tanah atau lahan. Menjual tanah, maka sama halnya dengan menjual harga diri. Menjual martabatnya sebagai OAP di atas tanah Papua. “Jual tanah sama saja jual harga diri. Kita dihargai karena tanah ada,” (Jubi, Selasa, 18 November 2019).

Tanah: Mama dan Rahim
Tanah memiliki banyak arti. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) pada edisi keempat, tanah adalah permukaan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara. Sementara, tanah adat adalah tanah milik adat yang diatur secara hukum adat. Sedangkan, arti kata mama dan rahim adalah orang tua perempuan, ibu. Kata sapaan kepada ibu. Kantong selaput dalam perut, tempat janin (Bayi), Peranakan, kandungan. Rahim, bersifat belas kasihan, penyayang, kata turunannya adalah kerahiman, berarti sifat belas kasih, Merahimi yang juga berarti menaruh belas kasih kepada, mengasihi. Dengan demikian, Tanah sama dengan mama dan rahim berarti seorang mama atau ibu yang memiliki sifat belaskasih dan penyayang.

Stop Jual Tanah. Mengapa?
Tanah adalah sumber kekayaan bagi AOP. Maksudnya, tanah adalah satu harta dalam menata kehidupan keluarga. Ia menjadi satu sumber hidup. Dasar (Kabo) dalam meningkatkan kesejahteraan hidup (Makan). Bayangkan saja, jika tanah itu dijual, maka amat disayangkan bagi mereka yang menjual tanah, sebab nasib sial menanti seluruh keturunannya. Ingat kehilangan tanah berarti kehilangan harta benda paling berharga. Sebab, tanah adalah sumber kekayaan paling istimewa. Oleh karena itu, tanah selalu dihubungkan dengan jati diri sebagai manusia yang memiliki harga diri dan martabat dalam hidup OAP di Papua.

Tanah tidak hanya sebagai sebuah harta benda (Kekayaan), tetapi sisi lainnya bahwa, tanah merupakan jati diri dan harga diri dalam masyarakat adat OAP. Sudah menjadi sebuah kepercayaan dan bertumbuh dan berkembang serta tertanam kuat sejak dahulu hingga kini dalam dinamika kehidupan OAP di Papua. Artinya bahwa, tanah adalah simbol harga diri dan jati diri OAP. Bagi siapa yang memiliki tanah, maka ia memiliki harga diri dan martabat sebagai OAP dan sebaliknya bahwa siapa yang tidak memiliki sebidang tanah, maka ia kehilangan harga diri dan martabatnya sebagai OAP. Oleh karena itu, menjual tanah, maka menjual harga diri sebagai anak adat.

Tanah dianggap juga sebagai simbol perdamaian. Maksudnya, ketika orang kehilangan tanah, maka yang sering terjadi adalah keributan (Konflik) antara warga yang memiliki sebidang tanah dan yang tidak punya lahan (Sebidang Tanah). Diantaranya seperti yang terjadi di Sentani. “Akibat penjualan tanah itu mulai dirasakan oleh masyarakat adat Sentani, Konflik kecil-kecilan mulai muncul di masyarakat adat. Dan bahkan masyarakat berkelahi menghabisi nyawa sesamanya sendiri”. Selain konflik, AOP mulai terpinggirkan dari tanahnya sendiri. Akibat yang demikian, sudah dan sering terjadi hingga kini di tanah Papua. “Selain konflik orang asli mulai terpinggirkan dari wilayah pemukiman penduduk kota, Orang asli mulai membangun pemukiman ke wilayah pinggiran kota, danau, dan pantai”. (Jubi, Selasa, 18 November, 2019).

Tanah adalah warisan leluhur. Oleh karena itu, tanah selalu ada hubungannya dengan kehidupan sekarang dan masa depan bagi anak dan cucu. Tanah adalah sumber kesejahteraan hidup untuk sekarang dan nanti. Artinya, ia menjadi sarana untuk melayani kehidupan bagi diri kita sekarang dan anak-cucu kita di masa depan. Tanah adalah warisan leluhur yang berkelanjutan sejak dahulu hingga kini dan nanti. “Kalau tanda-tanda ini tidak diantisipasi, masyarakat asli akan terus terusir jauh dari tanah adatnya sendiri. Orang asli menjadi penonton sejati di negerinya sendiri karena, kehilangan hak miliknya” (Jubi, Selasa, 18 November 2019).

Akhirnya, Tanah bukan merupakan barang komoditas, melainkan tanah adalah harta kekayaan, simbol jati diri dan harga diri, sebagai simbol perdamaiaan, dan warisan leluhur tete-nene moyang bangsa Papua sejak dahulu hingga kini. Dengan demikian, sudah menjadi jelas bahwa, tanah Papua adalah mama dan rahim bagi OAP.

)*Penulis adalah Mahasiswa Semester IV dan Anggota Group Kebadabi Voice di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.

Referensi:
das-jual-tanah-jual-harga-diri” dalam https://jubi.co.id/das-jual-tanah-jual-harga-diri/. Diunduh pada Senin, 06 April 2020. Pukul 20.00 WIT.
orang-asli-papua-hargailah-tanah-sebagai-mama” dalam https://suarapapua.com/2019/06/06/orang-asli-papua-hargailah-tanah-sebagai-mama/. Diunduh pada Senin, 06 April 2020. Pukul 20.00 WIT.