Home Berita Dr. Socratez S Yoman: Penguasa Indonesia Tidak Mendengar Suara Pejabat Dan Rakyat...

Dr. Socratez S Yoman: Penguasa Indonesia Tidak Mendengar Suara Pejabat Dan Rakyat Papua

165

Paniai, Jelatanp.com – Dilihat dari beberapa pokok masalah yang terjadi di tanah Papua sejak Indonesia merdeka sampai saat ini, para penguasa atau pejabat tertinggi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) jarang mendengarkan gagasan dan ide-ide cemerlang yang diusulkan oleh pejabat bangsa Papua. Hal ini dikatakan Dr. Socratez S. Yoman ketika dilihat dari beberap pokok persoalan yang terjadi. Diantara  masalah Ndugama dan surat Gubernur Papua tentang metutup akses di Papua.

“Yoman menuturkan, dilansir di law-justice.co oleh Mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai itu memang benar atas pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang melarang rencana Pemerintah Provinsi Papua menutup akses dari luar akibat virus corona. Karena menurutnya, pernyataan tersebut bisa menimbulkan amarah orang Papua asli (OAP),” tandasnya pada hari Sabtu, (28/03/2020) dini tadi kepada Wartawan.

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe sempat mengeluarkan stegment untuk menarik semua operasi militer besar-besaran yang terjadi di kabupaten Nduga dan tutup akses di Papua, tetapi sampai saat ini, nyatanya operasi militer masih terus berlanjut bahkan surat Gubernur Papua Lukas Enembe Tito Karnavian menolak ini atas alasannya apa!.

Stegment itu menurut Gembala Socratez Yoman, satu masalah mendasar yang belum dan tidak disadari oleh rakyat dan bangsa West Papua, terutama para pejabat Orang Asli Papua dan kaum terpelajar. Ketika OAP berbicara dan sampaikan pendapat dan ide-ide mereka yang cemerlang sekalipun, yang terjadi ialah para penguasa dan pengusaha orang Melayu (Indonesia) tidak pernah serius untuk mendengarkan suara pejabat dan rakyat Papua.

“Namun yang ada dalam pikiran dan hati orang Melayu (Indonesia) ialah bagaimana memanfaatkan dan mengobyekkan mereka untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Karena orang Melayu atau Indonesia selalu menilai Orang Asli Papua kelas dua dan tidak perlu didengar karena tidak setara dengan mereka,” ungkapnya.

Watak dan perilaku kolonial sesungguhnya. Intinya, Anda orang terdidik ataupun pejabat, dalam pandangan orang Melayu (Indonesia), Anda tidak ada artinya bagi mereka dan Anda tidak lebih dari seorang budak. Keberadaan Orang Asli Papua merupakan gangguan dan hambatan besar bagi orang Melayu Indonesia. Tujuan utama Indonesia ialah mau memiliki tanah subur yang penuh dengan emas ini.

“Karena itu, manusianya Orang Asli Papua harus dimusnahkan dengan berbagai macam cara yang wajar dan tidak wajar apalagi Tito Karnavian telah menolak Surat Gubernur Papua atas tutup akses di Papua. Dan sebelum juga Gubernur pernah keluarkan Surat tentang Operasi Militer di Nduga, pengusiran besar-besaran Penduduk Asli dari Tanah leluhur mereka, dan masih banyak hal lain juga.” Pinta Gembala Dr. Socratez S.Yoman.

Pewarta : Boas/JNP
Editor : –