Home Artikel/Opini Dampak Penjualan Miras Ilegal pada Malam Hari di Sekitaran Kota Jayapura

Dampak Penjualan Miras Ilegal pada Malam Hari di Sekitaran Kota Jayapura

110

Oleh: Okto K. Apintamon

Minuman keras (Miras) merupakan minuman yang mengandung alkohol. Minuman beralkohol dapat mengakibatkan kemabukan, menjadi sumber penyakit bahkan menyebabkan kematian. Kematian orang yang disebabkan karena mengkonsumsi alkohol semakin tinggi setiap tahunnya. Gubernur Papua pernah mengatakan bahwa tiap tahun 22 persen orang Papua mati akibat miras (kabarpapua.com 11/06/2016). Selain itu tidak hanya di Papua,  Orang-orang yang mengkonsumsi alkohol menempatkan angka kematian yang cukup tinggi misalnya pada negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, Prancis dan beberapa negara maju lainnya. Hal ini bukan berarti bahwa di negara-negara berkembang dan di tempat-tempat yang terkebelakang tidak ada kematian manusia yang di sebabkan karena mengkonsumsi Miras. Oleh karena minuman keras adalah bahan yang diperdagangkan, maka minuman keras tersebut pun bergulir dari satu tempat ke tempat lain termasuk di Papua (distrik Hedam).

Di Padang Bulan, misalnya di jalan Yakonde, taman depan USTJ, Sosiri, dan lapangan zakeus (belakang SMP YPPK st. Paulus) sering kali menjadi tempat yang strategis bagi orang-orang yang mengkonsumsi Miras untuk melakukan aksi minum bersama dan kemudian membuat kegaduhan bahkan memajak setiap orang yang melewati jalan tersebut. Mereka biasanya mengambil waktu pada malam hari bahkan hingga pagi hari untuk duduk dan mengkonsumsi Miras. Mengkonsumsi Miras membuat mereka lupa akan waktu, bahkan lupa diri. Lupa diri memunculkan gerakan tambahan yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain.

Pada intinya bahwa pengkonsumsian Miras adalah salah satu penyebab meningkatnya kejahatan misalnya kekerasan dalam rumah tanggga, pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, pencurian, perkelahian, kecelakaan lalulintas, munculnya penyakit menular bahkan menyebabkan kematian. Hal ini pun diseringkali dilakukan  oleh sebagian masyarakat Papua. Tidaklah mengejutkan bahwa kemudian orang-orang Papua mendapat Stigma yang tajam sebagai pemabuk, meskipun bukan hanya orang-orang asli Papua semata yang mengkonsumsi Miras.

Masalah penjualan minuman keras (miras) secara illegal di Kota Jayapura  sampai sekarang memang terlihat masih belum bisa diatasi secara maksimal. Karena, penjual miras illegal berjualan dengan berbagai ‘trik’ yang bisa mengalabui petugas Satpol PP dan pihak Kepolisian.  Kasatpol PP Kota Jayapura Kompol Muksin N, Cendrawaih Pos, Jumat 28 Februari 2020 mengaku, “memang penjualan miras illegal seperti di sepanjang jalan depan pasar Entrop, Distrik Jayapura Selatan masih ada, namun penjualnya dalam berjualannya dilakukan secara kucing-kucingan karena mengandalkan kurir, jadi sudah sepakat ada pembelian minuman keras baru dikeluarkan di tempat yang orang tidak tahu, bahkan bisa dikirim secara online.Dengan demikian muncul pertanyaan bahwa apakah selama ini pihak kemanan masih patroli untuk mengamankanpenjualan minuman keras yang terjadi pada malam hari? Bagaimana pihak keamanan dalam hal ini, Kepolisian dan Satpol PP melihat  penjualan miras ilegal di malam hari? Lalu usaha- usaha apa yang perlu diambil untuk mengatasi penjualan miras secara ilegal di malam hari? Ataukah justru ada oknum-oknum dari pihak keamanan yangjustru terlibat sebagai pelaku yang membackup penjualan miras ilegal di kota Jayapura?

Tentunya penjualan miras yang dilakukan pada malam hari adalah tidak tepat mengingat hal ini dilakukan secaara ilegal oleh para penjual. Peningkatan tindak kejahatan akibat pengkonsumsian miras di malam hari sangatlah tinggi. Memang moment yang selalu pas bagi mereka yang sering mengkonsumsi miras adalah pada malam hari. Tindakan ini tentunya belum mendapatkan ketegasan dari pemerintah kota jayapura sendiri. Yang lebih anehnya lagi dalam situasi pandemik ini, toko-toko penjualan miras tetap beroperasi seperti biasanya. Hal ini sungguh sangatlah miris karena dampaknya yang lebih besar dirasakan oleh kaum muda di Papua. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kejahatan yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi miras ini.

Penulis merasa bahwa pihak keamanan mesti melihat, membaca situasi dan kondisi masyarakat pada situasi malam hari, lebih diperketat lagi agar supaya  dapat mengatasi mereka yang menjual minuman keras di malam hari disekitar kota Jayapura ini, seperti di Expo-Waena, Kamkey, dan sebagainya. Agar supaya penjual miras ilegal tidak lagi menjual minuman keras pada malam hari. Saya harap pemerintah juga pihak kepolisian mesti harus memberi penegasan bagi perdagangan miras, terutama waktu pembatasan perizinan pada malam hari. Keamanan juga haruslah lebih aktif dan tegas supaya jaminanketertiban dan kenyamanan dirasakan oleh semua masyarakat.

APAKAH MINUMAN KERAS BUDAYA KITA?

Tentu saya dan kita semua tahu bahwa minuman keras bukan budaya kita orang Papua juga Indonesia. Oleh karena itu, kita masyarakat mesti harus menyadari bahwa minuman keras merupakan minuman beralhokol yang membunuh karakter dan pola pikir kita, melemahkan tubuh kita bahkan berujung pada kematian. Maka sebaiknya kita mengonsumsi minuman keras pada tempat dan kesempatan tertentulah,  jangan kita mengonsumsi alkohol setiap saat, ini juga merugikan diri kita bahkan memboros waktu dan sebagainya. Oleh sebab itu, penting kalau kita menjaga  kesehatan dan menghidupkan budaya asli Papua yang semakin hari-semakin menghilang ini. Budaya kita adalah budaya berkebun, meramu,  beternak, dan mengonsumsi makanan khas yang ada di Papua. Saya merasa  minuman kita adalah air putih dari kali, dari sungai yang langsung diambil dari sumbernya  bukan minuman alkohol yang diolah sedemikian rupa sehingga kita menjadi korban dari itu. Ingat bahwa nenek moyang kita dahulu mengkonsumsi air putih dan mereka terlihat lebih sehat, tegar, dan memiliki kesehatan stabil serta umur yang panjang daripada kita sekarag yang mengonsumsi alkohol. Maka itu sebaiknya kita menyadari hal ini, membangun budaya terkaitmengolah hidup baik agar supaya kita tidak lagi terbawa oleh masalah- masalah yang tidak penting hanya karena mengkonsumsi miras. Kita jaga bersamasikap dan tindakan kita demi gererasi kita juga yang akan datang, dengan memberi arahan yang baik dan bermanfaat bagi mereka. Pihak keamanan juga perlu mempertegas hal-hal seperti ini supaya tidak mengakibatkan korban jiwa yang terus berjatuhan. Mereka Harusnya menjadi pelindung bagi masyarakat yang amat luas ini bukan menjadi pelaku dan terlibat dalam perdagangan miras ilegal.

Dengan melihat situasi malam hari di sekitar Kota Jayapura ini, saya merasa penting untuk memperhatihan beberapa hal terkait keamanan, kenyamanan juga ketertiban di Tanah Papua ini . Pertama,Pemerintah dari kota Jayapura mesti  harus mempertegas waktu perizinan perdagangan Miras pada malam hari. Lebih khusus mengingatkan bagi para pemasok, juga parapemilik toko-toko minuman ini, agar tidak perlu lagi menjual Miras secara “kucing-kucingan” di belakang terutama pada malam hari. Kedua, pihak keamanan dalam hal ini kepolisian dan satpol pp mesti harus pula mempertegas penjual dan pembeli dengan  memberi sanksi yang tegas bila perlu mencabut hak ijin usaha apabila kedapatan menjual miras pada waktu malam sehinga mereka juga mempunyai perasaan malu, dan takut. Karena kalau hanya dibiarkan begitu saja, maka penjualan  minuman keras akan terus menyebabkan konflik sosial dalam masyarakat di tanah Papua . Lalu, yang ketiga penulis menyarankan agar masyarakat sendiri juga harus menyadari bahwa minuman keras (Miras) bukan budaya kita sebab miras ini membunuh karakter dan moralitas kita manusia Papua.

Akhirnya, fenomena miras adalah sedikit dari persoalan konflik di Papua yang bisa kita ukur sebagai fenomena sosial yang merusak moralitas manusia Papua. Kerusakan moral ini tentunya berdampak pada semakin punahnya orang Papua di atas tanahnya sendiri. Jika tidak menginginkan hal ini terjadi maka perdagangan miras ilegal harus dihentikan dan ini menjadi tanggungjawab kita bersama terutama pemerintah di Papua.

Penulis adalah mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura, Papua dan anggota Aplim Apom Reacerch Group (AARG).