Home Artikel/Opini Covid-19 Antara Harapan dan Kenyataan Dari Sain dan Agama dalam perspektif Teologi...

Covid-19 Antara Harapan dan Kenyataan Dari Sain dan Agama dalam perspektif Teologi Pengharapan

134

Oleh: Rimba Grime

Penyebaran virus corona yang masif dan nyaris tak terbendung telah membuat negara-negara kelabakan menghadapinya. Di Indonesia, angka masyarakat yang terpapar setiap harinya kian signifikan dan diikuti oleh angka kematian yang terus menjulang. Sungguh, pandemi ini membuat negeri ini berada dalam ancaman amat nyata, karena efeknya amat meluas, tidak hanya secara medis, tetapi juga terhadap daya tahan perekonomian nasional, termasuk stabilitas politik. Jika tidak ditangani dengan baik dan sungguh-sungguh, tak mustahil, pukulan covid-19 akan menyeret negeri ini ke jurang krisis yang maha berat. Pada kesempatan ini, fokus tulisan lebih kepada Sains dan Agama, karena beberapa minggu belakang ini banyak berita HOAX di Media Sosial meresahkan banyak orang tentang “kenapa Gereja di tutup tetapi pasar tidak ditutup”. Dengan pernyataan inilah penulis rasa mengankat tema ini dengan judul Wabah Covid 19 Antara Harapan dan Kenyataan dari Sains dan Agama.

Antara Sain dan Agama.

Menurut Albert Einstein bahwa Agama dan sains memang memiliki wilayah kerja yang berbeda. Agama bertugas menemukan makna, sedangkan sains bekerja untuk menemukan fakta. Situasi pandemic covid 19 mengharuskan pandangan Albert untuk bersatu antara agama dan sains, penyatuan ini relevan dalam menghadapi wabah paling mematika ini.

Dalam suasana kecemasan, karena misalnya takut akan kematian, agama dapat menjadi pemandu dan penerang untuk menimbulkan harapan dan ketenangan. Keadaan tenang dengan penuh harapan baik ini, dalam ilmu kesehatan dapat meningkatkan imunitas tubuh yang justru menjadi obat mujarab atas serangan virus corona. Inilah bukti kolaborasi sederhana antara sains dan agama. Betapapun mengerikannya efek wabah Covid-19 ini, ia juga memaksa kita untuk merenung. Peran dan posisi manusia sebagai makhluk sosial secara global telah benar-benar didekonstruksi atau dirombak total dari sangkar kenyamanannya.

Pertanyaannya adalah, dimana posisi agama dan peranannya, juga sains dalam mengatasi pandemi Covid 19? Jika panduan agama diasakan pada teologi pengharapan, maka sains diasaskan pada nalar manusia. Keduanya, menjadi harapan bersama manusia dan menjadi posisi yang sama dalam memerangi covid 19. Sains harus membantu memahami situasi agama atau maksud Allah dalam Kitab Suci yang mungkin multi tafsir. Sementara agama harus menjadi pemandu penemuan sains kepada makna-makna hakiki dari kehidupan manusia.

Para pemuka agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha ) menegaskan kepada masing-masing umat beragama di Indonesia untuk beribadah di rumah masing-masing dalam keadaan darurat sebagai upaya menekan penyebaran pandemi virus corona SARS-COV-2 penyebab penyakit Covid-19. Mereka juga sepakat untuk menghimbau masyarakat agar semakin meningkatkan ibadah lebih dari hari biasanya.[1]

Anjuran untuk tidak beribadah terutama di tempat-tempat yang berstatus zona merah harus diindahkan, karena semata-mata untuk menghindari kerumunan orang banyak. Ajaran setiap agama terutama agama katolik mengajarkan bahwa keselamat jiwa manusia amat berharga.

Dalam kenyataan sosial kehidupan masyarakat yang plural, pandangan keagaamaan yang lolaboratif antara sains dan agama tidaklah muda. Keragaman pandangan teologis inisangat mempengaruhi sikapnya terhadap penangan penyebaran wabah ini. Bagi mereka yang memiliki pandangan taqwa kepada Allah (untuk berserah diri pada Allah) tanpa mempertimbangkan aspek-aspek rasional (yang dianjurkan dari pemerintah) sangat kecil untuk mengabaikan anjuran untuk beribadah di rumah.

Namun determinasi covid-19 tak hanya mengancam institusi sipil (negara), tetapi juga membuat agama-agama seoalah-olah “mati gaya”. Pukulan telak covid 19 membuat agama terlihat rapuh dan usang, bagai bangkai yang pelan-pelan ditinggalkan. Rumah-rumah ibadah yang berdiri megah di mana-mana kini menjadi sepi. Tak ada lagi perayaan keagamaan yang bersifat massal. Covid 19 membuat kegidayaan dan hegemoni agama berada dalam titik nadir. Bencana yang ditimbulkan covid 19 memberikan pelajaran penting bahwa agama sebagai institusi juga amat rentan terhadap berbagai ancaman dan tantangan. Agama juga rapuh, rentan dan dapat berada dalam krisis. Agama tak pernah imun atau kebal dari berbagai intervensi tak terduga yang datang kapan dan dari mana saja. Walau sering mengabsolutkan dirinya sebagai sumber kebenaran, namun ternyata agama rentan dan dapat runtuh, termasuk sekarang ini oleh wabah covid 19. Dengan covid 19, mata kita melihat bahwa agama tidak kebal, hanya Tuhan yang senantiasa kebal dan kekal. Hanya Tuhan yang abadi dan memiliki kebaikan serta kebenaran. Sementara agama akan senantiasa berada dalam berbagai ancaman, lebih-lebih jika dia tidak setia, tidak jujur, tidak kreatif dan tidak kontekstual membawa serta menghadirkan Tuhan di tengah dunia. Upaya membawa, merefleksikan dan menghadirkan Tuhan di tengah dunia dikenal dengan sebutan teologi pengharapan. Agama yang tidak kreatif dan tidak kontekstual berteologi di tengah dunia, apalagi di tengah krisis dan kerentanan seperti akibat pendemi covid 19 saat ini, cenderung akan rapuh, tak berdaya, usang, dan tak relevan.

Harapan Dan Kenyataan Dari Teologi

Upaya berteologi secara kontekstual bukan lagi sebuah pilihan tetapi merupakan sebuah imperatif jika agama ingin tetap berperan relevan dan signifikan. Dalam Gereja Katolik, kontekstualisasi teologi merupakan usaha untuk merefleksikan Tuhan dengan sungguh-sungguh mempertenggangkan dua hal sekaligus yaitu konteks dan pengalaman masa lampau dan konteks serta pengalaman aktual masa kini (Bevans: 2002). Konteks dan pengalaman masa lampau yang maksudkan adalah semua perbendaharaan iman yang tercatat dan terekam dalam Kita Suci dan diwariskan serta dipertahankan dalam tradisi gereja. Sementara konteks dan pengalaman aktual masa kini adalah segala bentuk pengalaman individual dan sosial, pengalaman religius maupun sekular, lokasi dan perubahan sosial. Dalam perspektif Kristiani, kontekstualisasi teologi bukanlah imperatif yang dipaksakan dari luar, melainkan sebuah keniscayaan internal teologi Kristiani itu sendiri. Teologi Kristiani memang harus kontekstual karena ciri inkarnatif dan sakramental dari kekristenan. Artinya iman Kristiani mengakui Allah yang menjelma menjadi manusia hadir dan bergiat dalam seluuh duka dan kecemasan manusia dan dunia sepanjang zaman. Dia tidak jauh dan berada di ketinggian, tetapi Dia senantiasa dekat dan bergiat bersama umat-Nya. Dengan masuk sejarah manusia, Allah membuat manusia dan dunia ini menjadi kudus dan sakramental. Maka tugas teologi adalah secara kreatif dan kontekstual menyingkapkan kehadiran Allah di tengah dunia yang benar-benar kudus dan sakramental ini. Teologi harus mampu terus menerus menghadirkan Yesus yang berkarya secara kontekstual dua ribuan tahun lalu ke dalam dunia zaman ini dengan segala tantangan dan kerumitannya, lebih-lebih di tengah duka dan derita akibat hegemoni tak terkendali covid 19. Teologi harus secara segar, aktif dan kontekstual membuat Tuhan dialami oleh orang beriman zaman ini, termasuk di saat mereka tidak lagi merayakan perayaan ritual keagamaan secara massal di rumah ibadah.

Dalam surat Paskah yang sudah dikeluarkan oleh persekutuan Gereja-Gereja Indonesia bernadakan suatu harapan kepada umatnya untuk tidak mengkuatirkan hidup oleh wabah covid 19.  Seluruh dunia merayakan Paskah, peristiwa kebangkitan Yesus Kristus, di dalam suasana duka dan penuh pergumulan. Bagaimana orang beriman dapat merayakan kehidupan, bahkan “dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10), sementara orang menyaksikan dirinya berjuang di ambang batas kehidupan dan kematian, akibat pandemi Covid-19? Kematian ternyata begitu dekat, bahkan telah merenggut kehidupan orang-orang yang kita kasihi “jika kita mati bersama dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia” (Roma 6:8). Dalam kesedihan yang mudah membuat kita berputus asa ini, sekali lagi kita disapa oleh berita Paskah yang menjadi pusat iman kita: Kristus telah bangkit mengalahkan kematian! Dalam kesedihan yang mudah membuat kita putus asa, kita disapa oleh berita Paskah yang menjadi pusat iman kita, bahwa Kristus telah bangkit mengalahkan kematian. Pesan Alkitab dari Lukas 24:5-6, berkisah tentang berita Paskah yang disampaikan oleh dua malaikat kepada para perempuan yang mendatangi kubur Yesus. Berita itu sangat jelas: Ia telah bangkit! Di dalam iman kepada Allah yang membangkitkan Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Setiap orang diundang untuk terus menjadi saksi kehidupan yang ditemukan di dalam Kristus yang bangkit melalui kehidupan secara pribadi maupun bersama-sama sebagai satu tubuh. Undangan tersebut harus kita sambut dengan terus memperjuangkan, merawat, dan memberikan kehidupan, bukan yang mengancam kehidupan. Itulah Paskah yang sejati.[2]

Agama juga memberikan pedoman etis bagi manusia yang sedang dilanda krisis, apakah karena masalah ekonomi terlebih karena masalah wabah ini. Panduan etis agama yang memandu makna hidup manusia, pada kenyataannya harus dibarengi dengan panduan sains agar langkah-langkah rasional yang objektif ikut serta dalam meringankan beban hidup manusia.

Sains harus terus berikhtiar untuk menemukan vaksin pandemi ini. Penemuan ini sebagaimana prinsip dalam sains, akan mengungkap materi yang masih tersembunyi. Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan keyakinan sians itu sendiri yaitu bahwa kebenaran ilmiah yang dianut sains selalu bersifat probabilitas. Artinya, sains bukan satu-satunya perangkat yang bisa mengatasi seluruh hidup dan kehidupan manusia. Bisa jadi, wabah pandemi ini sedang “memperingatkan” manusia modern yang sedang bangga dengan proyek-proyek sains dan teknologinya. Pada saat yang sama telah melupakan dimensi lain, katakanlah aspek spiritualitas yang sejak lama diabaikan oleh “manusia modern”.

Kelihatannya, situasi wabah covid 19 mengancam hidup manusia akibat ulah manusia sendiri, tetapi kalau melihat dan merefleksikannya mungkin ini cara Allah untuk memberikan peringatan pada manusia yang lalai. Tetapi saya meyakini bahwa harapan untuk keluar dari wabah covid 19 akan terjadi itulah iman yang dimilliki oleh setiap orang yang mengimani Yesus “Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:13-14). Iman adalah awal pengharapan. Tetapi pengharapan sunggu mengatasi iman.[3]

Sumber:

Nico S. Dister, ESKATOLOGI-Bahan kuliah untuk mahasiswa STFT Fajar Timur Program Pasca Sarjana; Abepura-Jayapura-Papua 2011

           

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200328111553-20-487772/wabah-corona-pemuka-agama-minta-umat-ibadah-di-rumah

https://beritamanado.com/files/Pesan-Paskah-2020.pdf

[1] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200328111553-20-487772/wabah-corona-pemuka-agama-minta-umat-ibadah-di-rumah diunggah pada tanggal 2 Mei 2020 pukul. 10.30 WIT.

[2] https://beritamanado.com/files/Pesan-Paskah-2020.pdf diunggah tanggal 02 Mei 2020 pukul 10.30 WIT

[3] Nico S. Dister, ESKATOLOGI-Bahan kuliah untuk mahasiswa STFT Fajar Timur Program Pasca Sarjana; Abepura-Jayapura-Papua 2011, hal 57