Home Artikel/Opini Budaya sebagai Pintu Masuk Agama

Budaya sebagai Pintu Masuk Agama

74

Oleh: Yosia W. Lokobal                                   

Dalam bahasa Inggris,  kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin colere, yaitu mengolah atau mengajarkan. Dalam bahasa Belanda, cultuur berarti sama dengan culture. Culture bias diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani. Dengan demikian kata budaya ada hubungannya dengan kemampuan manusia dalam mengelola sumber-sumber kehidupan, dalam hal ini pertanian.  Adapun banyak definisi tentang kebudayaan dikemukakan oleh para ahli. Salah satu dari sekian banyak ahli yang mengemukakan tentang kebudayaan ialah Edward B. Taylor. Ia mengemukakan bahwa, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adatistiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Di dalam aktivitas sosial, anggota masyarakat memiliki gagasan-gagasan yang dapat menemukan nilai-nilai hidup yang hakiki. Interaksi manusia menjadi pusat penemuan nilai hidup yang mengatur kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, terdapat sekian banyak kompleksitas yang mempengaruhi kehidupan manusia. Maka saya secara spesifik akan mengkaji tentang budaya sebagai pintu masuk agama. Pada interaksi tersebut orang Papua menemukan identitas diri sebagai manusia berbudaya dan beragama. Problemnya ialah pengaruh kristiani yang dahsyat dengan Doktrin dan Alkitab membuat manusia Papua melupakan identitas diri sebagai bangsa yang memiliki kepercayaan dan nilai-nilai baik yang diwariskan sejak dahulu. Kini orang Papua terbuai dengan budaya kristiani Yahudi dan melupakan kepercayaan yang ada sejak masuknya agama kristiani.

Suku bangsa Papua memiliki dua ratus lima puluhan suku lebih dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Keunikan ini membentuk identitas spesifik dalam setiap suku budaya dan bahasa.  Dalam setiap suku memiliki kepercayaan terhadap realitas tertinggi. Hal ini membentuk suatu kepercayaan dalam suku bahwa ada subjek yang adi-duniawi. Misalnya suku Ngalum menyebut Atangki sebagai Sang Pencipta. Penyebutan subjek tertinggi dalam agama kristiani disebut Tuhan yang akan dipakai selanjutnya. Mereka menciptakan suatu kebiasaan untuk memuja, menyembah, mengagungkannya sebagai penguasa manusia dan alam semesta. Melalui bahasa mereka mengungkapkan sukacita, kegelisahan, berkomunikasi dan membangun relasi harmonis dengan Tuhan. Lingkaran ini dijaga oleh norma-norma yang mengatur tingkahlaku individu dalam berelasi. Nilai-nilai baik yang menjadi pedoman yang memberikan manfaat untuk menjadikan manusia yang berbudi luhur, berhati tulus dan bertindak benar. Hal ini diwujudkan dalam suatu kommunio hidup dalam aspek-aspek kehidupan terlebih dalam relasi dengan Tuhan, alam dan sesama.

Orang Papua dalam suku bangsanya masing-masing sejak dahulu mengalami situasi yang bersahabat dengan berbagai aspek yang dilakukan oleh orang asli Papua sendiri untuk menata hidup yang lebih harmonis. Leluhur melakukan ritus-ritus tertentu yang menghantar mereka menjadi manusia integral. Budaya-budaya di Papua adalah sebuah identitas orang asli Papua yang diwariskan sejak dahulu secara turun temurun. Sehingga budaya menjadi payung kehidupan. Pada setiap aktivitas didahului dengan suatu ritus tertentu. Tujuannya untuk meminta izin, memohon restu, supaya diberkati, dilindungi, dan mendapat hasil  yang berlimpah dari Sang Pencipta. Misalnya dalam masyarakat pegunungan ketika mau membuka kebun baru, mereka harus membuat suatu ritus tertentu memohon pada Tuhan dan alam untuk merestui dan memberkati. Di sini mau mengungkapkan suatu identitas yang memiliki kepercayaan akanTuhan. Sehingga kesuburan yang mereka alami menjadi berkat dari Tuhan. Di dalam kehidupan, saya melihat problem pada pergeseran kebiasaan, norma dan nilai baik yang dipegang, dipercaya dalam realitas kehidupan beragama orang Papua yang kini terkontaminsi dengan agama kristiani, sehingga adanya krisis identitas yang esensial sebagai makhluk berbudaya dalam kehidupan beragama. Maka perlu adanya suatu upaya agar tetap terjaga.

Nilai-nilai baik yang telah ditetapkan oleh leluhur dilupakan oleh orang asli Papua sendiri karena orang asli Papua mudah menerima tawaran budaya apapun yang diberikan dari orang yang bukan Papua kepada orang asli Papua. Salah satu hal ialah masuknya kekristenan. Ada dua ajaran yakni menerima budaya dan menolak budaya setempat. Menerima dengan cara menginkulturasikan budaya setempat dalam kehidupan injili. Namun yang menolak dilakukan dengan aksi menghilangkan atau membakar benda-benda sakral yang dipercaya memiliki kekuatan supra-natural yang membantu manusia dalam mengatasi tantangan kehidupan. Kemudian membakar rumah adat, benda adat, pakaian adat, atribut adat, menghilangkan mantra-mantra adat, dan sebagainya. Ada dua nilai yang muncul yakni nilai positif dan negatif. Positif agar orang lebih fokus pada ajaran agama. Namun dampak negative sangat terlihat. Yakni kesuburan mulai hilang, konflik social merajalela, nilai-nilai baik hilang, terserang penyakit dan bahkan kematian dating silih berganti. Apakah ini sebuah kutukan atau teguran dari Tuhan, alam dan leluhur untuk kita kembali pada jalan kepercayaan untuk mengangkat identitas yang hilang?

Orang asli Papua mengarahkan pandangannya ke arah ritus-ritus kekristenan budaya orang Yahudi. Orang Papua mengabaikan kepercayaan dalam budaya yang ada di tanah Papua sejak dahulu. Relasi yang dahulu harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan antar sesama menjadi jauh. Bahkan ironisnya putus. Budaya baru yang masuk dan berkontaminasi dengan kepercayaan orang Papua menghilangkan hidup baik yang sudah dibangun.

Kini Papua lambat laun terkikis pudar oleh gesekan-gesekan arus perkembangan yang masuk di tanah Papua, sehingga masyarakat asli Papua membuahi dengan perkembangan itu. Orang asli Papua tidak dapat menahan diri pada nilai-nilai yang baik dan menjadi pencari identitas di atas tanah dan budaya sendiri.  Kita tidak bisa membendung arus perkembangan yang terus menerus mengalir seperti air sungai yang mengalir tanpa henti. Jangan sampai kita kehilangan akal dan daya untuk mengukir kembali nilai-nilai baik tersebut.

Ajaran agama yang dogmatis mempengaruhi peninggalan budaya dan masuk dalam dunia kristiani yang asing bagi kita. Agama kristiani dating bukan menghilangkan budaya, tetapi menggenapinya yang baik, benar, dan luhur yang ada dalam budaya. Maka pegang, jaga dan lestarikan budaya sebagai identitas kita. Sehingga dalam hidup beragama untuk mengangkat identitas orang Papua yang memiliki kepercayaan sejak nenek moyang kita menginkulturasikan budaya ini dalam kehidupan kristiani. Mislanya dalam perayaan ibadah, pelayanan pastoral, hidup keluarga,  kerja dan karya.

Dengan demikian, untuk mengangkat identitas orang Papua yang memiliki relasi dengan Tuhan dilakukan beberapa tawaran agar identitas orang Papua yang berbudaya dalam beragama tetap eksis.  Bagi orang Papua harus sadar akan budaya dan identitas kita sebagai suku bangsa yang berbudaya dan berkepercayaan pada Tuhan. Adat ada sebelum agama, maka adat menjadi pintu masuk agama, bukan agama pintu masuk adat. Harus ada pengakuan bahwa, hidup beragama merupakan bagian dari diriku. Harus ada inkulturasi pada perayaan, pelayanan dan kehidupan Kristiani agar memperlihatkan identitas ke-Papua-an dalam agama kristiani.  Pemimpin agama harus mengajarkan dan membangun umat berbasis budaya setempat atau inkulturasi. Hal ini saya yakin akan mengangkat identitas manusia Papua yang memilki kepercayaan dan hidup berbudaya.

Penulis adalah Mahasiswa Semester II pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) “FajarTimur” Abepura-Jayapura.