Home Artikel/Opini Berkebun Untuk Mengantisipasi Krisis Pangan

Berkebun Untuk Mengantisipasi Krisis Pangan

79

Oleh : Imanuel H. Mimin

Dampak dari penyebaran pandemi Covid 19 di seluruh  dunia menyebabkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat global terganggu dan kurang kondusif.  Pandemi Covid 19 telah membunuh ratusan ribu nyawa manusia di seluruh dunia. Mengutip dari Tirto.Id tertanggal 20 Mei 2020 “total kasus positif Covid-19 di dunia telah menembus angka  5.000.559 orang. Angka kematian bertambah menjadi 325.156 jiwa. Pasien positif yang sudah sembuh sebanyak 1.970.918 orang1”.  Kematian dalam jumlah banyak ini akan tercatat sebagai sejarah krisis kemanusiaan pada abad 21.

Untuk memutus mata rantai penyebaran virus Pemerintah mengeluarkan berbagai himbauan seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, jaga pola makan dan sebagainya. Kemudian menerapkan kebijakan Physical Distancing, Sosial Distancing maupun Pembatasan Sosial Berskala Kecil (PSBK) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  Dampak dari pandemi ini sudah dan sedang menimbulkan kerugian besar-besaran di berbagai bidang perekonomian, baik Usaha Kecil Menengah (UKM), Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) maupun korporasi. Seperti terjadi mogok kerja dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Banyak pihak memprediksi akan terjadi krisis ekonomi global, terutama krisis pangan akan melanda negara yang mendapat dampak Covid 19.

Untuk  mengantisipasi krisis pangan pasca Covid 19 usai maka masing-masing daerah di Indonesia mesti mengembangkan pangan lokal. Misalnya di Papua, masyarakat harus kembali mengembangkan budaya berkebun ubi, singkong, pisang, sayur-sayuran dan buah-buahan. Budaya berkebun sudah diwariskan leluhur kepada kita bangsa Papua tetapi akhir-akhir ini sudah lupakan pangan lokal lalu tergantung pada  produk import dan menjadi masyarakat bermental konsumtif. Jika kita tidak rubah pola pikir dan mental saat ini maka kedepan kita akan mengalami krisis pangan yang lebih besar dan berbahaya. Oleh karena itu berkebun sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan  pangan jangka pendek maupun jangka panjang pasca Covid 19 usai.  Berkebun tidak hanya sekedar membuka lahan, tanam dan panen tetapi memiliki makna filosofis dan merupakan perwujudan karakter dan jati diri orang Papua. Orang Papua adalah manusia “pekerja keras!”. Bukan sebaliknya pemalas atau peminta-peminta seperti yang dilakukan pada masa Covid 19 ini.  Oleh karena itu kini kesempatan bagi OAP untuk kembali pada karakter dan jati diri yang sesungguhnya sebagai manusia pekerja keras.

Dilain pihak, situasi dan kondisi saat ini menyadarkan kita orang Papua untuk kembali menghormati tanah sebagai ibu pemberi kehidupan. Maka janganlah menjual tanah.  Tanah yang ada harus dikelola sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan kemakmuran keluarga. Selain kelola tanah atau berkebun, masyarakat Papua harus hidup mandiri (tidak bergantung pada orang lain). Masyarakat harus mampu hidup mandiri dari hasil kerja kerasnya. Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu ada  intervensi Pemerintah Daerah di setiap kabupaten/kota di Papua dengan cara memfasilitasi  peralatan  dan bibit tanaman  kepada masyarakat.  Kemudian bersama  Gereja, Lembaga Adat dan LSM melakukan sosialisasi dan mengajak seluruh masyarakat untuk  kerja kebun.   Agar suatu saat jika terjadi krisis pangan kita hidup mandiri dari  hasil berkebun.

 Penulis adalah Sekjend Komunitas Mahasiswa & Pelajar Aplim-Apom (Komapo) dan AnggotaAplim-Apom Research Group (AARG).