Home Buku Apa Itu Cinta?

Apa Itu Cinta?

66

Judul:

Apa Itu Cinta?

Penerbit:

Ikan Paus

Penulis:

Yakobus Odiyaipai Dumupa

Tahun Terbit:

2019

Tebal:

103 halaman

ISBN:

978-602-53246-9-7

Apa Itu Cinta? adalah sebuah buku kumpulan puisi cinta karya Yakobus Odiyaipai Dumupa. Penulis yang bernama pena ‘Dumupa Odiyaipai’ ini telah menyempatkan dirinya dalam kesibukannya sebagai bupati Kabupaten Dogiyai periode 2017-2022 untuk menulis dan menerbitkan buku.

Penulis mengungkapkan, naskah-naskah puisi dalam buku ini hanya sebagian dari ratusan puisi yang telah dipublikasikannya secara lepas di media sosial (facebook).

Dalam pengantar, secara tersirat penulis menyatakan, puisi-puisi yang terdapat dalam buku ini adalah sebuah upaya pencarian jawaban atas pertanyaan ‘apa itu cinta?’ Cinta yang dipandangnya tak hanya cinta kepada lawan jenis, tetapi lebih jauh menyangkut cinta kepada Sang Pencipta ‘Sang Sumber Cinta’.

Dalam puisi ‘Cinta Hampa’ yang berlatar tempat Muara Sungai Maro, penulis secara jelas menggambarkan penantian sang kekasih yang tak kunjung datang. Di sana ditemukannya cinta itu hampa.

Sementara dalam puisi ‘Dege Toyaa’ penyair menyiratkan ketulusan cinta dari Sang Pencipta yang melintasi ruang dan waktu.

‘Tanpa Cinta dan Girang’ menggambarkan ketika cinta manusia (sang kekasih) yang rapuh berlalu, pasti saja manusia mengharapkan cinta kasih dari Tuhan yang pada akhirnya menyegarkan kembali batin yang layu.

53 naskah puisi yang termuat dalam buku ini, adalah hasil karya sang penulis selama 11 tahun yakni dari 2008 sampai 2019 dan ditulisnya dari beberapa tempat yang pernah dikunjunginya. Tak hanya dari dalam rumah, tetapi dari alam bebas pun ditulisnya. Bahkan dalam perjalanannya juga ia meluangkan waktu untuk menulis.

Berikut ini adalah sebuah naskah puisi yang terdapat dalam buku ini:

DARI HATI YANG HANCUR

 

Kalau cinta harus tumbuh dari kehancuran

Puing-puing hati adalah tanah yang subur

Dari atasnya cinta tumbuh mekar

 

Cinta yang tumbuh dari hati yang hancur

Tak akan layu dirongrong waktu

Kecuali harus mati pada waktunya

 

Dari kematian bangkitlah kenangan

Kenangan yang mengabadikan cinta

Cinta yang terabadi dari kehancuran

 

(Pulau Karang, 28/06/2017)