Home Artikel/Opini Alasan OAP Menolak Hari Aneksasi Papua ke Dalam Indonesia

Alasan OAP Menolak Hari Aneksasi Papua ke Dalam Indonesia

111

Oleh: Efendi Minai

Menurut Wkipedia, interaksi adalah suatu jenis indakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Dengan demikian, orang papua merayakan 1 Mei sebagai hari aneksasi papua ke Indonesia. Disinilah terjadi pro dan kontra orang papua dan Indonesia selama 57 tahun di papua.

Kemudian Aneksasi, Menurut kamus besar mahasa Indonesia (KBBI ) adalah pengambilan dengan paksa tanah (wilayah) orang (negara) lain untuk disatukan dengan tanah  (negara) sendiri, kata lain penyerobotan atau pencaplokan. Oleh sebab itu, agar tidak terjadi pro dan kontra, tetapi pengakuan secara kebenaran sesuai sejarah interaksi atau aneksasi papua ke Indonesia, kita sama-sama melihat ulasan berikut.

Dalam kehidupan sejarah papua, 1 Mei merupakan hari Aneksasi kemerdekaan papua barat ke Indonesia. Awal mula merampas dan penyerobotan Irian Barat kini sebut (Papua) oleh Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat. Banyak hal yang dibuat sejak pada tahun 1962-1963 untuk kepetingan parah elit politik. Setelah kemerdekaan Irian Barat satu tahun kemudian, penguasa (Bunker) asal Amerika Serikat, mantan (Dubes Amerika Serikat) yang pernah bertugas sebagai dubes berkuasa penuh di india, menyusun suatu solusi dalam bentuk proposal. Menyusun Proposal tersebut salah satu usulan kepada pemerintah belanda dan Indonesia mengenai Irian Barat, dan dokumen tersebut secara resmi ditanda-tangani oleh belanda dan Indonesia sebagai perjanjian mengenai irian barat atau dikenal dengan perjanjian New York pada tanggal 15 Agustus 1962, dalam perjanjian tersebut satupun tidak pernah dilibatkan orang papua. Kutik dalam buku Papua  Barat dari Pangkuan ke Pangkuan (Agus A. Alua  hal 45). Itulah awal mula para elit politik berkuasa untuk pencaplokan  Wilayah Irian Barat pada tahun 1962.

Perjuangan Amerika Serikat dan Indonesia Merebut Wilayah Papua Barat

Tanggal 2 Januari 1962   Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala untuk pembebasan irian barat  yang berkedudukan dimakasar. Komando operasi Mandala itu diketua oleh May. Jen Soeharto. Tugas Pokoknya adalah merencanakan    persiapan  dan   menyelenggarakan operasi militer untuk mengembalikan Irian Barat kedalam Republik Indonesia. (Agus A. Alua : hal 46)

Kemudian pada tanggal 20 Maret 1962 dimulai perundingan-perundingan rahasia antara Indonesia dan belanda dibawah pimpinan utusan presiden Jhon F.Kenedy, yakni diplomat E.Bunker. Bunker sebagai pimpinan pertemuan-pertemuan sangat tidak mau agar orang papua turut terlibat dalam pertemuan-pertemuan mereka.

Pada tanggal 2 April 1962 Presiden Amerika Serikat , Jhon F. Kenedy, mengirimkan surat rahasia kepada pemerintah Belanda , Dr. J. E. De Quay, untuk menekan pemerintah Belanda agar menerima   proposal Bunker . Alasan penekanan terhadap Belanda   adalah      bahaya  akan perang terbuka dikawasan daerah sengketa, bila terjadi maka pihak Belanda dan Blok Barat  akan  kalah dan yang akan memetik kemenangan adalah  Blok Timur atau Komunis. Sehingga ancaman terhadap pemerintah Belanda  oleh Presiden Amerika Serikat Jhon F. Kenedy, sangat kecam sehingga ruang gerak Belanda melawan Indonesia untuk membebaskan Irian Barat disempitkan. Oleh karena itu, tekanan bunyi surat oleh Prsiden Jhon F. Kenedy terhadap pemerintah Belanda bahwa“dalam keadaan seperti ini, serta didorong oleh tanggung jawab kami terhadap Dunia Bebas (non Komunis), saya mendesak dengan sangat agar pemerintah Belanda menerima rumusan yang digagas oleh Tuan Bunker. (Agus A. Alua : hal 47).

Pada tanggal 14 April 1962 pemerintah Belanda akhirnya menyetujui dengan terpaksa proposal Bunker, karena ditekan Amerika Serikat, pada bulan Mei dan Juni 1962 diadakan perundingan rahasia antara Indonesia dan Belanda yang dimediasi oleh wakil-wakil PBB dan Amerika Serikat (terutama bunker) untuk melakukan pembahasan-pembahasan proposal Bunker untuk penyelesaian masalah Irian Barat. Tanggal 1 Mei 1962 pemerintah belanda secara resmi menyatakan akan menyerakan kekuasaan atas Nieuw Guinea kepada PBB. Kemudian PBB akan membentuk pemerintah sementara yang disebutnya UNTEA (United Nations Temporary Executive Autbority). (Agus A. Alua : hal 48).

Setelah  Interaksi Papua ke Indonesia

Setelah interaksikan papua kedalam Indonesia, masalah politik Indonesia dan papua terus berlanjut. Logikanya jika ada masalah maka masih belum menyelesaikan dibalik interaksi papua ke Indonesia. oleh sebab, saya akan menguras sedikit dibalik tujuan interaksi papua ke Indonesia.

Pertama rekayasa pepera tahun 1963, Kemenangan PEPERA 1969 adalah hasil rekayasa politik oleh militer Indonesia, terutama melalui OPSUS ( Operasi Khusus) yang diketuai oleh Ali Murtopo. Pada saat itu, operasi militer yakni operasi Sadar. Sehingga operasi-operasi mengakibatkan pelanggaran HAM yang luar biasa besar, yakni penangkapan, penahanan, pembunuhan, manipulasi hak berpolitik rakyat, pelecehan seksual, dan pelecehan kebudayaan. Selain itu, sesuai dengan pepera tahun 1969 mereka dilakukan namanya operasi WIBAWA, dengan tujuan tumpaskan sisa-sisa OPM pimpinan Fery Awom dan daerah- daerah lain, amankan usaha-usaha orang papua memenangkan pepera 1969, dan konsolidasi pemerintah Indonesia di seluruh wilayah papua. dengan itu, OAP menolak Negara gagal dan tidak manusiawi di balik interaksi papua ke Indonesia.

Kedua Operasi –operasi militer, dinamika politik di Indonesia operasi militer terus dilakukan terhadap OAP mulai dari operasi sadar hingga saat ini operasi militer dingduga, dan bertahun-tahun dilakukan semenjak interaksi papua ke Indonesia. oleh karena itu, oap tidak beta tinggal bersama Indonesia, OAP memilih “kembalikan kedaulata papua” dari pada bersama Indonesia, mersa perbudahkan diatas tanahnya sendiri.

Ketiga pelanggaran HAM dipapua yang tidak pernah selesaikan secara hukum yakni, 7 kasus besar di papua dan papua barat, pertama kasus Biak Berdarah 6 Juli 1998, kedua Kasus Wasior berdarah Juni 2001, ketiga kasus wamena berdarah April 2003, keempat kasus kerusuhan universita cenderawasih dijayapura 16 Maret 2006, kelima kasus paniai berdarah, di enarotali 08 Desember 2014, keenam kasus Deiyai pada 1 Agustus 2017, dan ketuju kasus Nduga, 2 desember 2018. https:// Jubi.co.id. Katanya “integrasi” tetapi semua kasus tersebut, tidak menyelesaikan oleh Negara Republik Indonesia, sehingga OAP menolak dengan memilih berdiri sendiri diatas tanahnya sendiri.

Kasus akhir tahun 2019-2020, terjadi ujaran rasisme terhadap mahasiswa papua di Surabaya 08 Agustus 2019 dan OAP penjarakan hingga saat masih belum keluarkan. semua ini, negara memperlakukan kecahatan yang berlebihan terhadap OAP di papua dan papua barat.

Apakah OAP terus menerima itu? jawabnya, tidak! mengapa menolak interaksi papua ke Indonesia? jawabannya, tentu menolak karena sejak interaksi hingga saat ini kami OAP tidak hargai sebagai manusia. Dan kami OAP bukan diciptakan binatang yang tak memiliki harkat dan martabat, Kami OAP manusia dan mampu berdiri sendiri diatas tanahnya sendiri.

Melihat dari sejarah interaksi papua ke indonesi, OAP tidak hargai sebagai manusia. ketika dilihat dari kehidupan Indonesia terhadap papua selama 57 tahun ini, tidak sesuai dengan sebutan integrasi tetapi aneksasi “ secara paksa oleh Bunker terhadap pemerintah Belanda” sehingga OAP menolak Aneksasi Papua ke Indonesia. Tolak Aneksasi!

Penulis Adalah Mahasiswa Uncen Fakultas Mantematika dan Ilmu pengetahuan Alam

Referensi:

Papua barat dari pangkuan ke pangkuan.

https://jubi.co.id/ melawan lupa kasus pelanggaran hak asasi  manusia dipapua